Cegah Ancaman Gagal Ginjal Sejak Dini: 'HydroMind', Aplikasi Pengingat Minum Karya Pelajar PALI
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, masyarakat kerap mengabaikan pentingnya hidrasi dan justru lebih memilih minuman tinggi gula maupun bahan aditif lainnya dibandingkan air putih. Kebiasaan buruk ini turut memicu lonjakan kasus penyakit ginjal kronis di Indonesia, di mana data BPJS Kesehatan pada tahun 2024 mencatat 134.057 pasien harus menjalani prosedur cuci darah dengan beban biaya mencapai Rp11 triliun. Merespons krisis kesehatan yang makin mengancam generasi muda ini, dua pelajar dari SMA di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Ratih Zaskia Utami dan Putri Meilani, merancang sebuah terobosan digital bernama "HydroMind".
Inovasi yang berlaga dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025 ini lahir dari keprihatinan melihat tingginya angka dehidrasi di kalangan remaja. Berdasarkan riset yang dihimpun para inovator, sebanyak 49,5% remaja Indonesia mengalami dehidrasi ringan akibat kurang minum air putih, sementara 47,7% responden justru terbiasa mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari. Jika dibiarkan berlarut-larut, kekurangan cairan ini dapat memicu kelelahan, penurunan konsentrasi, infeksi saluran kemih, pembentukan batu ginjal, hingga risiko gagal ginjal kronis.
Untuk memutus rantai kebiasaan tidak sehat tersebut, Ratih dan Putri mengembangkan HydroMind menggunakan platform visual programming bernama Kodular, yang memungkinkan pembuatan aplikasi Android secara efisien melalui sistem drag-and-drop. Aplikasi ini didesain sangat praktis dan inklusif; pengguna dapat langsung mengaksesnya melalui Kodular Companion tanpa harus melewati proses login atau pembuatan akun yang rumit.
Sebagai asisten kesehatan digital, HydroMind dibekali dengan berbagai fitur cerdas untuk mengubah perilaku penggunanya:
Sistem notifikasi pengingat minum air secara berkala yang disesuaikan dengan perhitungan personal kebutuhan cairan masing-masing pengguna.
Fitur pencatatan jumlah konsumsi harian agar pengguna dapat memantau secara langsung kemajuan target hidrasinya.
Penyajian materi edukasi kesehatan interaktif yang bersumber langsung dari pedoman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Meski dikembangkan secara mandiri dengan estimasi anggaran yang sangat minim—yakni hanya Rp50.000 untuk kebutuhan akses internet—inovasi ini terbukti membawa dampak perilaku yang sangat positif. Berdasarkan hasil uji coba awal di lingkungan sekolah, tingkat konsumsi air putih siswa yang mulanya hanya berkisar 4 hingga 5 gelas per hari berhasil meningkat pesat menjadi 7 hingga 8 gelas per hari. Kehadiran HydroMind juga sukses mendongkrak literasi kesehatan serta kesadaran diri para siswa untuk menjaga asupan cairannya secara konsisten.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!