Cegah Stunting dengan Cara Seru, Desa Tanah Abang Selatan PALI Hadirkan Inovasi "GEMOY"
PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR – Masalah stunting atau tengkes masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Di tengah upaya pencapaian target pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional, sebuah gebrakan kreatif dan membumi lahir dari Desa Tanah Abang Selatan, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Inovasi tersebut diberi nama yang cukup unik dan kekinian, yakni "GEMOY", singkatan dari GErak Mobilitas gizi desa untuk Bayi Sehat.
Gerakan inovatif ini berawal dari keresahan pemerintah desa melihat rendahnya cakupan layanan gizi langsung ke rumah warga. Banyak ibu yang tidak aktif mengunjungi Posyandu akibat kesibukan bekerja, jarak lokasi layanan yang jauh, maupun kurangnya pemahaman tentang pentingnya memantau tumbuh kembang anak. Padahal, dari total 3.197 jiwa penduduk desa, sempat tercatat 3 orang anak yang menunjukkan tanda-tanda gagal tumbuh akibat gizi kronis pada tahun sebelumnya.
Menyadari bahwa stunting adalah ancaman nyata bagi masa depan generasi, inovasi GEMOY dirancang dengan pendekatan yang lebih dekat, menyenangkan, dan mudah diterima masyarakat. Tujuannya adalah menjadikan pemenuhan gizi sebagai gaya hidup keluarga, bukan sekadar program formalitas.
Empat Pilar Utama "GEMOY"
Untuk memaksimalkan jangkauan, GEMOY dijalankan melalui empat kegiatan utama yang proaktif, yaitu:
GEMOY Keliling: Kader desa dan relawan muda menerapkan sistem jemput bola dengan berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka menimbang dan mengukur tinggi badan balita, sekaligus memberikan edukasi langsung kepada orang tua dengan cara yang santai namun bermakna.
Dapur GEMOY: Dikelola oleh ibu-ibu PKK dan pemuda-pemudi desa, dapur ini berfokus pada penyajian makanan sehat berbasis pangan lokal. Ibu-ibu diajak memasak langsung dan belajar menyiapkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) secara benar menggunakan bahan lokal seperti wortel, tempe, ikan, bayam, hingga pepaya.
GEMOY EduClass: Edukasi gizi dikemas layaknya kelas kreatif yang ringan dan lucu. Kegiatan ini dilengkapi dengan kuis, permainan mitos-fakta, poster bergambar, hingga sesi konsultasi bersama bidan desa, sehingga belajar mengenai gizi terasa seperti bermain.
GEMOY Digital: Pemantauan dan edukasi juga dilakukan secara daring melalui grup WhatsApp dan konten video edukasi. Fasilitas ini mempermudah para ibu untuk mengakses materi, berkonsultasi secara fleksibel, hingga berbagi resep MPASI dalam sebuah komunitas digital.
Kolaborasi Berbuah Manis
Pelaksanaan inovasi GEMOY terbukti memberikan dampak yang sangat positif. Dalam waktu enam bulan sejak dijalankan, cakupan pemantauan balita di desa tersebut melonjak tajam dari awalnya hanya 60% menjadi 92%. Angka stunting juga dilaporkan menurun secara signifikan, dan kini 85% ibu balita di desa tersebut telah rutin menyajikan makanan bergizi berbasis bahan lokal.
Keberhasilan GEMOY tidak lepas dari solusi-solusi kreatif dalam menghadapi tantangan di lapangan. Misalnya, ketika ada bayi yang menolak makan, kader memvariasikan menu dan mengajak anak bermain terlebih dahulu dengan ditemani "Maskot GEMOY".
Agar program ini berkelanjutan, Kepala Desa Tanah Abang Selatan, Ahmad Sartono, CM, telah memastikan program GEMOY masuk ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) sehingga mendapatkan dukungan pendanaan dari Dana Desa. Selain didanai oleh desa, program ini juga berkolaborasi dengan Puskesmas Tanah Abang dalam pelatihan kader, serta menggandeng pihak swasta melalui program CSR PT Adera.
Kini, GEMOY bukan sekadar nama program intervensi, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan gotong royong dan gaya hidup baru bagi masyarakat Desa Tanah Abang Selatan. Dengan langkah kecil yang dikerjakan sepenuh hati ini, inovasi GEMOY diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk turut serta melahirkan generasi yang kuat dan sehat demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!