PERMIA, Inovasi Permen Kangkung Khas PALI untuk Mendukung Pencegahan Anemia
PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR — Kreativitas masyarakat Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kembali melahirkan inovasi di bidang pangan dan kesehatan. Melalui PERMIA (Permen Kangkung Khas PALI), bahan pangan lokal berupa kangkung diolah menjadi produk permen yang dirancang sebagai alternatif pangan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, khususnya dalam upaya mengatasi masalah anemia.
Inovasi non-digital yang diinisiasi Nabila Mufida Luftia tersebut telah memasuki tahap implementasi. PERMIA dikembangkan dengan memadukan kangkung, ekstrak jeruk nipis, dan madu. Gagasan ini lahir dari upaya menghadirkan produk yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi, terutama bagi kelompok yang kurang menyukai bentuk suplemen atau tablet penambah darah.
Mengolah Potensi Lokal Menjadi Produk Inovatif
Dalam dokumen inovasi daerah, pengembangan PERMIA dilatarbelakangi persoalan anemia yang tidak hanya dapat dialami orang dewasa, tetapi juga remaja dan anak-anak. Kangkung dipilih sebagai bahan baku karena relatif mudah ditemukan di Kabupaten PALI dan dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang mengandung zat besi.
Inovator kemudian mengembangkan kangkung dalam bentuk permen dengan tambahan ekstrak jeruk nipis dan madu. Jeruk nipis digunakan sebagai bagian dari formulasi produk, sementara madu dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pemanis. Kombinasi tersebut diharapkan menghasilkan produk dengan cita rasa yang lebih dapat diterima masyarakat.
Konsep ini sekaligus memberikan pendekatan berbeda dalam pemanfaatan bahan pangan lokal. Jika selama ini kangkung lebih banyak dikonsumsi sebagai sayuran, PERMIA mencoba mengembangkan bentuk olahan baru yang praktis dan memiliki potensi nilai jual.
Menjawab Tantangan Konsumsi Suplemen
Dokumen inovasi menyebutkan bahwa konsumsi obat atau tablet penambah darah telah umum digunakan untuk mengatasi kekurangan darah atau anemia. Namun, rasa pahit dan bentuk sediaan tertentu dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian anak dan remaja kurang tertarik.
PERMIA dikembangkan sebagai alternatif produk pangan berbentuk permen yang diharapkan lebih menarik bagi masyarakat. Inovasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi medis, tetapi menjadi bagian dari pengembangan pangan berbasis bahan lokal yang mendukung perhatian masyarakat terhadap pemenuhan nutrisi.
Selain aspek kesehatan, inovasi tersebut juga diarahkan untuk memanfaatkan tanaman kangkung yang banyak ditemukan di PALI agar memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan sebagai produk industri lokal.
Perpaduan Kangkung, Jeruk Nipis dan Madu
Salah satu karakter utama PERMIA adalah penggunaan tiga bahan utama, yakni kangkung, jeruk nipis, dan madu. Dokumen inovasi menyebutkan kangkung dipilih karena kandungan zat besinya, sedangkan ekstrak jeruk nipis digunakan karena memiliki kandungan yang disebut memiliki aktivitas antibakteri alami. Madu digunakan sebagai salah satu bahan dalam formulasi produk.
Dengan formulasi tersebut, PERMIA diarahkan tidak hanya memiliki nilai inovasi dari sisi bahan baku, tetapi juga memberikan pengalaman konsumsi yang berbeda dibandingkan produk kangkung pada umumnya.
Telah Memasuki Tahap Implementasi
PERMIA telah melalui uji coba pada 5 Juni 2023 dan memasuki tahap implementasi pada 17 Agustus 2024. Dalam pengembangannya, inovasi ini telah dilengkapi pedoman teknis, tata laksana produksi, serta dukungan sosialisasi dan diseminasi inovasi daerah.
Dokumen juga mencatat adanya dukungan ekosistem inovasi daerah melalui PALI Innovation Hub, serta keterlibatan berbagai aktor dalam sosialisasi dan diseminasi inovasi. PERMIA juga tercatat dalam jejaring replikasi inovasi yang melibatkan Kabupaten PALI dengan sejumlah daerah, termasuk Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.
Dari sisi produksi, dokumen inovasi mencatat jumlah produk yang dihasilkan atau diperjualbelikan telah mencapai lebih dari 200 produk.
Dari Pangan Lokal Menuju Ekonomi Kreatif
Lebih jauh, PERMIA memperlihatkan bagaimana bahan pangan yang mudah ditemukan di daerah dapat dikembangkan menjadi produk inovatif. Pengolahan kangkung menjadi permen membuka peluang diversifikasi produk sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan industri lokal berbasis potensi pertanian.
Ke depan, pengembangan PERMIA dapat diarahkan pada penyempurnaan formulasi, standardisasi proses produksi, penguatan keamanan pangan, pengembangan kemasan, pemasaran, serta pengujian kandungan dan manfaat secara lebih terukur. Langkah tersebut penting agar inovasi pangan tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga memiliki kualitas dan daya saing sebagai produk daerah.
PERMIA pada akhirnya membawa gagasan bahwa inovasi kesehatan dan pangan dapat dimulai dari potensi yang ada di sekitar masyarakat. Dari kangkung yang sederhana, lahir sebuah gagasan baru untuk menghadirkan produk pangan inovatif, membuka peluang ekonomi, dan mendorong budaya hidup yang lebih peduli terhadap pemenuhan nutrisi.
PERMIA — pangan lokal, inovasi kreatif, dan langkah kecil menuju masyarakat PALI yang lebih sehat dan produktif.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!