Solusi Sejuk di Tengah Pemadaman: Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Ciptakan 'KIPAS' Bertenaga Matahari
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi listrik rumah tangga dan seringnya gangguan pasokan listrik yang mengganggu kenyamanan, inovasi sederhana namun berdampak besar lahir dari bangku sekolah di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Lendri Yansa dan Goldy Wicaksono Sitompul, dua pelajar dari SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, berhasil menciptakan solusi pendingin udara yang mandiri dan ramah lingkungan bernama "KIPAS" atau Kipas Angin Panel Surya. Proyek yang menjadi bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ini tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga menjadi jawaban atas potensi energi surya Indonesia yang selama ini belum teroptimalkan di tingkat rumah tangga.
Latar belakang lahirnya inovasi ini cukup pragmatis: keresahan siswa terhadap kondisi ruang kelas yang kerap terasa panas dan minim ventilasi, ditambah dengan ketidakpastian aliran listrik dari PLN. Alih-alih mengandalkan pendingin udara konvensional yang boros energi, Lendri dan Goldy memanfaatkan melimpahnya sinar matahari di wilayah mereka. Sistem KIPAS ini dirancang dengan komponen yang cukup sederhana namun efisien, yakni panel surya 20 watt, baterai 12V sebagai penyimpan energi, serta motor kipas DC.
Secara teknis, inovasi ini memiliki performa yang mengesankan. Melalui pengisian daya di bawah sinar matahari penuh selama kurang lebih lima jam, KIPAS mampu beroperasi secara mandiri selama 6 hingga 8 jam tanpa harus terhubung ke listrik konvensional. Proses perakitannya pun tergolong ramah anggaran bagi pelajar, dengan komponen-komponen utama seperti dinamo, saklar, dan panel surya yang dapat dibeli dengan biaya yang sangat ekonomis. Pengujian yang dilakukan pada Februari 2025 membuktikan bahwa perangkat ini mampu memberikan solusi pendingin udara yang stabil, aman, dan tahan lama.
Dampak dari kehadiran KIPAS ini tak hanya dirasakan oleh para penciptanya. Di lingkungan sekolah, alat ini terbukti berhasil menurunkan suhu ruangan dan menciptakan suasana belajar yang jauh lebih kondusif dan nyaman. Kesuksesan ini bahkan menarik perhatian sekolah-sekolah lain yang tertarik untuk mereplikasi konsep serupa dalam proyek P5 mereka sendiri. Dalam kunjungan belajar antar-sekolah, siswa dan guru dari lembaga pendidikan lain telah mengamati proses pembuatan KIPAS sebagai model energi terbarukan yang dapat diterapkan dengan mudah di daerah masing-masing.
Sebagai bentuk kontribusi terhadap agenda global, inovasi ini secara nyata mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam aspek penyediaan energi bersih dan terjangkau, serta penanganan perubahan iklim. Dengan biaya pembuatan yang terjangkau dan penggunaan energi matahari, KIPAS membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan tidak harus mahal dan rumit, melainkan dapat dijangkau oleh masyarakat luas, termasuk di daerah terpencil yang belum tersentuh listrik PLN. Ke depannya, sekolah berencana untuk terus menyempurnakan dan memperbanyak unit pendingin berbasis surya ini guna mendukung kenyamanan operasional di lingkungan pendidikan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!