Berantas Sengkarut Data Bansos, Pemuda Asal PALI Ciptakan "SIBISA": Solusi Cerdas dan Hemat Tanpa Internet
PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR — Penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) yang tidak tepat sasaran masih menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah daerah hingga pusat. Berangkat dari keresahan tersebut, seorang pemuda asal Desa Tanah Abang Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Afri Sitiawan Saputra, berhasil melahirkan inovasi brilian bernama SIBISA (Sistem Bansos Informasi Satu Data).
Inovasi yang diikutsertakan dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025 ini menawarkan jalan keluar yang sangat praktis, murah, dan aplikatif bagi aparatur desa di seluruh penjuru negeri.
Akar Masalah: Data Ganda dan Sinkronisasi NIK
Selama ini, pengelolaan data penerima bansos di tingkat daerah kerap terkendala oleh sistem pencatatan yang masih manual atau tersebar di banyak dokumen yang tidak seragam. Akibatnya, masalah klasik seperti data ganda, NIK yang tidak padan, hingga penerima yang sudah meninggal namun masih tercatat, terus berulang.
Bahkan, temuan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara nasional pernah mencatat ada 16,8 juta data bansos yang tidak padan dengan NIK dan jutaan data ganda yang membuat penyaluran bantuan menjadi lambat serta tidak tepat sasaran.
Untuk memutus rantai masalah ini di tingkat desa, Afri Sitiawan menciptakan SIBISA dengan moto: "Bisa Data, Bisa Salur, Bisa Tepat".
SIBISA: Mengapa Memilih Microsoft Excel?
Berbeda dengan inovasi digital lain yang kerap menuntut pembuatan aplikasi mahal dan server yang rumit, SIBISA dibangun sepenuhnya menggunakan Microsoft Excel. Pemilihan platform ini bukan tanpa alasan yang cerdas:
Tanpa Perlu Internet: Sistem ini dapat beroperasi penuh secara offline, menjadikannya solusi sempurna untuk desa-desa dengan keterbatasan jaringan internet.
Hemat Anggaran: Tidak ada biaya langganan server atau lisensi aplikasi tambahan, karena Excel hampir selalu tersedia di seluruh komputer fasilitas pemerintah.
Aman dan Familiar: Data tersimpan secara lokal dengan aman, dan antarmukanya sudah sangat akrab bagi para perangkat desa, sehingga tidak memerlukan pelatihan IT yang rumit.
Cara Kerja SIBISA: Sederhana Namun Kuat
Sistem ini menggunakan kecanggihan formula Excel (seperti VLOOKUP, Data Validation, dan Pivot Table) yang dibagi menjadi enam lembar kerja (sheet) yang saling terintegrasi otomatis:
Sheet Validasi & Penerima: Berfungsi sebagai pondasi untuk memastikan pengisian data selalu seragam dan sesuai dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Sheet Penyaluran: Mencatat setiap bantuan yang keluar secara mendetail.
Rekap & Dashboard Interaktif: Ini adalah fitur unggulan SIBISA. Hanya dengan satu klik, sistem akan menyajikan laporan bulanan dan visualisasi grafik (dashboard) secara seketika (real-time). Kepala desa dapat langsung melihat persentase bantuan yang sudah tersalurkan maupun yang masih dalam proses.
Dampak Nyata: Bekerja dalam Hitungan Menit
Uji coba implementasi SIBISA telah membuktikan perubahan yang sangat drastis dalam tata kelola administrasi bansos di tingkat desa. Berikut adalah perbandingan efisiensi sebelum dan sesudah menggunakan SIBISA:
| Indikator Penilaian | Sebelum SIBISA | Sesudah SIBISA |
|---|---|---|
| Waktu Rekap Bulanan | ± 3-5 hari | ± 1-2 jam |
| Tingkat Kesalahan Data | Tinggi (10-15%) | Sangat Rendah (<2%) |
| Akses Informasi | Sulit dan harus dicari manual | Cepat, real-time melalui dashboard |
| Proses Validasi Data | Manual dan memakan waktu | Otomatis dengan referensi sistem |
Menuju Tata Kelola Desa yang Transparan
Kehadiran SIBISA membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus identik dengan teknologi tinggi yang mahal. Dengan kecermatan melihat masalah dan memaksimalkan alat yang sudah ada, Afri Sitiawan Saputra berhasil menciptakan sistem yang mampu memangkas birokrasi pendataan, mencegah kebocoran bantuan, dan menciptakan transparansi.
Saat ini, desain SIBISA yang sangat mudah dioperasikan membuka peluang besar untuk direplikasi (copy-paste) oleh desa-desa lain, baik di dalam maupun di luar Kabupaten PALI. Melalui inovasi ini, diharapkan penyaluran bantuan sosial di masa depan benar-benar bisa "Tepat Data, Tepat Salur, dan Tepat Sasaran"
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!