23 August 2026
Logo

Inovasi Daerah

Menghubungkan Inovator, Menguatkan Daerah, Mengakselerasi Masa Depan

Dari Limbah Menjadi Energi, Inovasi KARETARA Ubah Daun Karet Menjadi Briket Ramah Lingkungan

Penulis: Ika PS 06 January 2025 07:47 WIB Dilihat: 18 kali Komentar: 0
Dari Limbah Menjadi Energi, Inovasi KARETARA Ubah Daun Karet Menjadi Briket Ramah Lingkungan

Mahasiswa Asal PALI Hadirkan Solusi Energi Alternatif Berbasis Limbah Perkebunan

PALI, Sumatera Selatan – Hamparan perkebunan karet yang luas menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Namun di balik besarnya potensi tersebut, terdapat persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni melimpahnya limbah daun karet yang berguguran setiap musim. Sebagian besar limbah tersebut hanya dibiarkan menumpuk atau dibakar di lahan, sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Berangkat dari kondisi tersebut, dua mahasiswa muda asal PALI, Tania Rahma Salsabila dan Rahmi Fauliza Hanapsari, menghadirkan inovasi bertajuk KARETARA (Briket Limbah Daun Karet). Inovasi ini mengubah daun karet yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Menjawab Persoalan Lingkungan dan Energi Sekaligus

KARETARA merupakan produk briket biomassa yang memanfaatkan limbah daun karet sebagai bahan baku utama. Nama "KARETARA" sendiri merupakan gabungan dari kata Karet dan Tara, yang dimaknai sebagai harapan masa depan bagi pengelolaan limbah perkebunan yang lebih produktif.

Melalui proses pengarangan dan pencetakan, daun-daun karet yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran diubah menjadi bahan bakar padat dengan nilai kalor tinggi. Briket yang dihasilkan memiliki nilai kalor sekitar 5.800–6.200 kalori per gram, memenuhi standar mutu nasional untuk briket biomassa dan mampu menjadi alternatif pengganti LPG maupun minyak tanah. Namun, menurut duo inovator muda asal Pali ini masih perlu ada pengujian mutu dan kualitas Briket yang dihasilkan untuk melihat konsistensi jumlah kalori yang dihasilkan.

"Inovasi ini hadir sebagai solusi atas melimpahnya limbah daun karet yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal, sekaligus menyediakan sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan," demikian dijelaskan dalam proposal inovasi tersebut.

Proses Sederhana, Dampak Besar

Keunggulan utama KARETARA terletak pada proses produksinya yang relatif sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat desa.

Tahapan produksi dimulai dari pengumpulan daun karet kering di area perkebunan. Daun kemudian dijemur untuk mengurangi kadar air sebelum dibakar dalam drum tertutup hingga menjadi arang. Setelah itu, arang dihaluskan dan dicampur dengan perekat alami berbahan tepung tapioka sebelum dicetak menjadi briket dan dikeringkan hingga siap digunakan.

Selain menggunakan bahan baku yang mudah diperoleh, KARETARA juga memanfaatkan perekat alami sehingga lebih aman bagi lingkungan dibandingkan bahan bakar berbasis fosil.

Menekan Biaya Energi hingga 30 Persen

Hasil implementasi awal menunjukkan dampak ekonomi yang menjanjikan. Limbah daun karet yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual kini dapat diolah menjadi produk energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, penggunaan briket daun karet juga mampu menekan biaya operasional usaha kecil yang membutuhkan proses pembakaran atau pengeringan. Berdasarkan hasil uji coba, biaya energi dapat berkurang hingga 30 persen dibandingkan penggunaan LPG.

Potensi ini dinilai sangat relevan bagi pelaku usaha mikro seperti pengolahan makanan, pengasapan ikan, hingga usaha pengeringan hasil pertanian yang selama ini bergantung pada bahan bakar konvensional.

Dorong Ekonomi Sirkular di Kawasan Perkebunan

KARETARA tidak hanya menawarkan solusi energi, tetapi juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular di kawasan perkebunan. Limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini diubah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan dapat menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Dalam implementasinya, inovasi ini melibatkan kelompok tani karet sebagai penyedia bahan baku, pelaku UMKM sebagai pengguna produk, pemerintah daerah sebagai fasilitator, serta lembaga lingkungan hidup sebagai pendamping teknis. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan.

Berpotensi Direplikasi Secara Luas

Meski masih dalam tahap awal pengembangan, KARETARA telah menarik perhatian sejumlah kelompok tani dan pelaku usaha di wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa. Beberapa kelompok masyarakat bahkan telah melakukan kunjungan untuk mempelajari proses produksi dan pemanfaatan briket tersebut.

Dengan bahan baku yang melimpah, teknologi yang sederhana, serta biaya produksi yang relatif rendah, inovasi ini memiliki peluang besar untuk direplikasi di berbagai daerah penghasil karet di Indonesia. Dukungan pemerintah daerah dan program pemberdayaan masyarakat diyakini akan mempercepat pengembangan KARETARA sebagai model pengelolaan limbah perkebunan yang produktif dan berkelanjutan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Kirim Komentar

Galeri Video

Geser untuk melihat lainnya
NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

PIA 2025 atau Pali Innovation Award Tahun 2025 adalah kegiatan apresiasi dan penganugerahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pali kepada inovator daerah yang telah melalui kompetisi panjang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025 mulai dari Kick Off, Kurasi Proposal, Pemaparan dan Fact Finding. Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya selama 4 tahun sejak tahun 2022, dimana pada saat itu hanya 38 propsal inovasi yang ikut dengan 4 kategori, tahun 2023 peserta naik menjadi 78 proposal, tahun 2024 menjadi 126 proposal dan tahun 2025 ada 175 proposal yang masuk. selama tiga tahun terakhir ada enam kategori yang dilombakan diantaranya Inovasi Perangkat Daerah, Pendidikan, Kesehatan, Pelajar/Mahasiswa, Desa/Kelurahan dan Pertanian/Pangan. Tahun ini seperti tahun sebelumnya Balitbangda Pali selalu berusaha menghadirkan Juri Terbaik yang memiliki pengalaman dan kualifikasi Nasional diantaranya : 1) Dr. Ing. Wiwiek Joeliani, MT, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, 2) Nailuredha Suherman, SAP Analis Kebijakan Kemenpan RB yang berpengalaman dalam pelaksanaan KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemenpan RB, 3) Prof. Dr. Megawati Simanjuntak, SP., M.Si Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Guru Besar dalam bidang consumer behavior 4) Prof. Filli Pratama, Phd Direktur Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Universitas Sriwijaya, Guru Besar Bidang Food Technology 5) Atang Sulaeman, S.Pt, M.Si Perekayasa Ahli Madya PUSAT RISET TEKNOLOGI INDUSTRI PROSES DAN MANUFAKTUR BRIN 6) Hanif S. Affandi, S.Pt., MSi Ketua Tim Penumbuhan dan Pengembangan Inovasi Daerah Kab. Pali Tahun ini Pemda Pali juga memberikan apresiasi kepada Individa dan lembaga yang telah berdedikasi serta berkontribusi nyata bagi tumbuh kembang inovasi daerah pada 10 bidang sesuai dengan perannya yang luar biasa. Pemerintah Daerah Kab. Pali berkomitmen Besar pada Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah melalui kolaborasi dan sinerji pentahelix sebagai upaya menghadirkan evidence based policy atau kebijakan berbasis bukti yang menjadi landasan mendorong daya saing daerah untuk Pali yang lebih maju menyongsong Indonesia Emas 2025

26 Jun 2026