25 August 2026
Logo

Inovasi Daerah

Menghubungkan Inovator, Menguatkan Daerah, Mengakselerasi Masa Depan

Memutus Rantai Tuberkulosis dari Pintu ke Pintu: Strategi Gerakan "TAS TB JEMPOL" di Puskesmas Simpang Babat

Penulis: Ika PS 03 July 2024 04:32 WIB Dilihat: 5 kali Komentar: 0
Memutus Rantai Tuberkulosis dari Pintu ke Pintu: Strategi Gerakan "TAS TB JEMPOL" di Puskesmas Simpang Babat

Kesehatan sebuah bangsa sering kali diuji oleh penyakit menular menahun yang bergerak senyap di dalam masyarakat, salah satunya adalah Tuberkulosis (TBC). Sebagai salah satu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis, TBC bukan hanya menjadi problem klinis, melainkan juga tantangan sosial yang mengancam produktivitas dan menjadi salah satu penyebab utama kematian. Menyadari bahwa pendekatan konvensional yang bersifat pasif (menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan) tidak lagi adaptif dalam mengejar target nasional, UPTD Puskesmas Simpang Babat mengambil langkah transformatif.

Melalui inisiasi inovatif bertajuk "TAS TB JEMPOL" (Brantas Tuberkulosis dengan Jemput Bola), institusi kesehatan yang dipimpin oleh dr. Gita Listawaty ini merancang sebuah sistem deteksi dini yang memindahkan pusat aksi dari dalam gedung puskesmas langsung ke ruang-ruang domestik warga. Program yang digerakkan oleh Rizal Budianto, AMAK selaku Staf Laboratorium ini, lahir dari sebuah refleksi mendalam atas keterbatasan personel medis yang selama ini menghambat perluasan jangkauan skrining. Dengan "TAS TB JEMPOL", puskesmas tidak lagi sekadar menjadi tempat berobat, melainkan sebuah poros penggerak yang aktif menjaring, mendampingi, dan menyelamatkan masyarakat dari bahaya laten TBC.

Mengubah Pola: Menembus Batas Keterbatasan Personel Medis

Berdasarkan data evaluasi taktis, upaya penjaringan suspek TBC di wilayah kerja Puskesmas Simpang Babat sempat menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan jumlah tenaga kesehatan. Kondisi ini menyebabkan angka penjaringan suspek sulit memenuhi target optimal yang telah ditetapkan dalam strategi nasional Directly Observed Treatment Short-course (DOTS). Pola "menunggu di meja periksa" terbukti menyisakan ruang gelap berupa kasus-kasus tak terdeteksi (underreported) di tingkat desa.

Guna mendobrak kebuntuan tersebut, program "TAS TB JEMPOL" dirancang untuk memutus sekat geografis dan psikologis masyarakat. Inovasi ini mengubah paradigma pelayanan dengan menempatkan kader kesehatan sebagai perpanjangan tangan resmi puskesmas. Melalui pembekalan dan pelatihan yang terukur, para kader kini memiliki kapasitas untuk melakukan pengamatan lingkungan, mengenali gejala klinis awal, hingga memberikan edukasi persuasif tanpa membuat masyarakat merasa canggung atau takut.

Taktis dan Humanis: Mekanisme Estafet Pot Dahak di Lapangan

Kekuatan utama dari "TAS TB JEMPOL" terletak pada kesederhanaan prosedurnya yang efektif sekaligus ramah warga. Alur kerja inovasi ini berjalan secara sistematis melalui empat tahapan utama:

Skrining Aktif: Kader kesehatan melakukan pemantauan berkala di wilayah masing-masing untuk menyisir warga yang mengeluhkan batuk lebih dari dua minggu atau gejala khas seperti keringat malam hari tanpa aktivitas fisik.

Edukasi & Pendistribusian: Saat menemukan suspek, kader melakukan kunjungan rumah secara humanis untuk memberikan pemahaman mengenai TBC sekaligus menyerahkan wadah (pot) dahak.

Kurir Kesehatan (Jemput Bola): Warga tidak perlu datang ke puskesmas hanya untuk mengantar sampel; kaderlah yang akan menjemput pot dahak tersebut dan mengirimkannya langsung ke laboratorium puskesmas.

Pemeriksaan & Tindak Lanjut: Staf Laboratorium melakukan pengujian mikroskopis, dan hasilnya segera diintegrasikan ke dalam program P2TB untuk segera diberikan pengobatan secara gratis dan intensif bagi yang terkonfirmasi positif.

Sistem estafet ini tidak hanya mempercepat waktu penemuan kasus (time to detection), tetapi juga meminimalkan biaya transportasi dan waktu yang harus dikorbankan oleh masyarakat lapis bawah.

Menekan Risiko, Membangun Kemandirian Desa Sehat

Dampak jangka panjang dari penguatan program "TAS TB JEMPOL" ini bukan sekadar pemenuhan target indikator klinis seperti Case Notification Rate (CNR). Lebih dari itu, inovasi ini menjadi benteng preventif guna melindungi masyarakat dari komplikasi fatal TBC kronis, seperti kerusakan sendi, kelainan jantung, hingga nyeri punggung berat.

Berdasarkan pemetaan sebaran suspek, program ini memberikan perhatian khusus pada wilayah dengan tingkat kepadatan dan kerentanan tinggi—seperti wilayah Purun, Babat, Sungai Langan, Suka Raja, hingga wilayah WL—guna memastikan tidak ada klaster penularan yang terabaikan. Melalui monitoring bulanan dan evaluasi berkala yang ketat, inovasi "TAS TB JEMPOL" membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya bukanlah penghalang untuk menciptakan pelayanan publik yang prima. Dengan melibatkan masyarakat untuk melindungi masyarakatnya sendiri, Puskesmas Simpang Babat sedang menata fondasi ketahanan kesehatan daerah yang mandiri, responsif, dan bebas dari belenggu Tuberkulosis.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Kirim Komentar

Galeri Video

Geser untuk melihat lainnya
NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

PIA 2025 atau Pali Innovation Award Tahun 2025 adalah kegiatan apresiasi dan penganugerahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pali kepada inovator daerah yang telah melalui kompetisi panjang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025 mulai dari Kick Off, Kurasi Proposal, Pemaparan dan Fact Finding. Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya selama 4 tahun sejak tahun 2022, dimana pada saat itu hanya 38 propsal inovasi yang ikut dengan 4 kategori, tahun 2023 peserta naik menjadi 78 proposal, tahun 2024 menjadi 126 proposal dan tahun 2025 ada 175 proposal yang masuk. selama tiga tahun terakhir ada enam kategori yang dilombakan diantaranya Inovasi Perangkat Daerah, Pendidikan, Kesehatan, Pelajar/Mahasiswa, Desa/Kelurahan dan Pertanian/Pangan. Tahun ini seperti tahun sebelumnya Balitbangda Pali selalu berusaha menghadirkan Juri Terbaik yang memiliki pengalaman dan kualifikasi Nasional diantaranya : 1) Dr. Ing. Wiwiek Joeliani, MT, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, 2) Nailuredha Suherman, SAP Analis Kebijakan Kemenpan RB yang berpengalaman dalam pelaksanaan KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemenpan RB, 3) Prof. Dr. Megawati Simanjuntak, SP., M.Si Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Guru Besar dalam bidang consumer behavior 4) Prof. Filli Pratama, Phd Direktur Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Universitas Sriwijaya, Guru Besar Bidang Food Technology 5) Atang Sulaeman, S.Pt, M.Si Perekayasa Ahli Madya PUSAT RISET TEKNOLOGI INDUSTRI PROSES DAN MANUFAKTUR BRIN 6) Hanif S. Affandi, S.Pt., MSi Ketua Tim Penumbuhan dan Pengembangan Inovasi Daerah Kab. Pali Tahun ini Pemda Pali juga memberikan apresiasi kepada Individa dan lembaga yang telah berdedikasi serta berkontribusi nyata bagi tumbuh kembang inovasi daerah pada 10 bidang sesuai dengan perannya yang luar biasa. Pemerintah Daerah Kab. Pali berkomitmen Besar pada Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah melalui kolaborasi dan sinerji pentahelix sebagai upaya menghadirkan evidence based policy atau kebijakan berbasis bukti yang menjadi landasan mendorong daya saing daerah untuk Pali yang lebih maju menyongsong Indonesia Emas 2025

26 Jun 2026