Bukan Menunggu di Meja Periksa, Puskesmas Ini Pilih 'Jemput Bola' Buru Suspek TBC ke Rumah-Rumah!
Kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara hingga kini masih menjadi momok menakutkan yang mengancam kesehatan kaum perempuan di Indonesia. Ironisnya, meski metode deteksi dini yang mudah dan terjangkau seperti Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan Clinical Breast Examination (CBE) sudah tersedia, angka partisipasi masyarakat sering kali membentur dinding tebal bernama rasa takut dan malu. Menjawab tantangan tersebut, UPTD Puskesmas Simpang Babat meluncurkan langkah transformatif melalui inovasi pelayanan keliling yang diberi nama "PERAWAN CEKING" (Peduli Rahim Wanita dengan Cek IVA Keliling).
Inovasi yang digawangi oleh Wiwin Aprianti, Am.Keb, seorang bidan berdedikasi di Puskesmas Simpang Babat, lahir dari sebuah potret keprihatinan data. Pada tahun 2017, cakupan pemeriksaan IVA di tingkat Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir tergolong sangat rendah, yakni hanya menyentuh angka 11,6%. Berdasarkan survei awal terhadap 160 responden di wilayah kerja puskesmas, terungkap fakta mengejutkan bahwa 73% perempuan di antaranya belum pernah sekalipun melakukan pemeriksaan. Alasan utamanya seragam: mereka merasa takut, malu, ragu akan manfaatnya, atau sekadar merasa tubuhnya masih sehat-sehat saja.3
Mendobrak Sekat Geografis dan Psikologis
Menyadari bahwa pendekatan konvensional yang bersifat pasif di dalam gedung puskesmas tidak akan membuahkan hasil optimal, Bidan Wiwin merancang strategi "jemput bola". Bersama tim medis yang diperkuat oleh dr. Ika Agustina dan dukungan Bidan Desa, pelayanan pemeriksaan dipindahkan langsung ke tengah-tengah pemukiman warga—mulai dari optimalisasi Polindes hingga memanfaatkan rumah para kepala dusun (kadus per kadus).
Langkah ini terbukti ampuh meruntuhkan tembok psikologis warga. Para wanita usia subur tidak perlu lagi menempuh jarak jauh atau merasa canggung datang ke fasilitas kesehatan, karena layanan pemeriksaan hadir di lingkungan terdekat mereka secara humanis dan terjadwal secara berkala setiap bulannya.
Prosedur pemeriksaan yang diterapkan pun berjalan secara sistematis dan aman. Menggunakan olesan larutan asam asetat dengan kadar 3–5% pada leher rahim, tim medis dapat langsung mendeteksi ada tidaknya perubahan warna secara visual. Munculnya area berwarna putih atau lesi acetowhite menjadi alarm dini yang mengindikasikan adanya gejala pra-kanker, sehingga tindakan penanganan dapat segera diambil sebelum terlambat.
Catatan Manis Keberhasilan di Lapangan
Sejak digulirkan secara konsisten, inovasi "PERAWAN CEKING" terbukti berhasil mendongkrak angka partisipasi secara masif jika dibandingkan dengan capaian tahun 2017 yang hanya mencakup 347 orang. Sepanjang periode evaluasi, program ini mencatat lompatan kunjungan yang signifikan, dengan puncak partisipasi tertinggi tercapai pada tahun 2018 sebanyak 1.990 orang dan terus termonitor secara berkala hingga tahun-tahun berikutnya.
Secara akumulatif, gerakan keliling ini telah berhasil memeriksa total 2.877 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 2.552 orang di antaranya merupakan Pasangan Usia Subur (PUS), yang berarti inovasi ini sukses menjangkau 85% dari total sasaran wilayah—melampaui target minimal yang ditetapkan pemerintah sebesar 80%.
Keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen jadwal rutin yang ketat di delapan desa wilayah kerja Puskesmas Simpang Babat, mulai dari Desa Purun Timur di awal bulan, hingga Desa Spantan dan Sungailangan di penghujung bulan. Melalui pemantauan bulanan dan evaluasi yang konsisten, "PERAWAN CEKING" bukan sekadar sebuah program kesehatan biasa, melainkan sebuah manifestasi nyata dari kepedulian negara dalam melindungi rahim dan masa depan wanita Indonesia dari ancaman kanker sejak dini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!