Inovasi Anak Bangsa: Guru dan Mahasiswa Asal PALI Ciptakan "AESIS", Losion Anti Nyamuk DBD dari Daun Sambiloto
PALEMBANG — Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan menular yang serius di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Merespons ancaman ini, dua inovator asal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, yakni Andin Wibowo, S.Pd. dan Heni Meliani, S.Pd., berhasil mengembangkan sebuah terobosan baru bernama "AESIS" (Aedes Safety Inovative Solution).
Inovasi ini berupa hand and body lotion berbahan dasar ekstrak daun sambiloto yang diformulasikan khusus untuk menangkal gigitan nyamuk Aedes aegypti, agen utama penyebar virus dengue.
Berawal dari Lonjakan Kasus DBD
Ide pengembangan AESIS tidak lepas dari keprihatinan para inovator terhadap tren kenaikan kasus DBD di daerah mereka. Berdasarkan data, Kabupaten PALI mengalami peningkatan kasus DBD dari 101 kasus pada tahun 2019 menjadi 142 kasus pada tahun 2020.
Berangkat dari masalah tersebut, Andin dan Heni berinisiatif mencari solusi pencegahan menggunakan potensi alam lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar. Pilihan mereka jatuh pada daun sambiloto, sebuah tanaman yang sering dianggap sebelah mata namun ternyata menyimpan khasiat luar biasa.
Mengapa Memilih Daun Sambiloto?
Bagi orang awam, sambiloto mungkin hanya dikenal sebagai tanaman obat berasa sangat pahit. Namun dari kacamata sains, tanaman ini adalah insektisida nabati (alami) yang ampuh.
Daun sambiloto kaya akan senyawa metabolit sekunder, seperti saponin, terpenoid, alkaloid, flavonoid, dan tanin. Senyawa-senyawa kimia alami ini sangat tidak disukai oleh serangga. Dengan mengekstrak zat-zat tersebut, AESIS mampu memberikan perlindungan pada kulit manusia dari incaran nyamuk penyebab demam berdarah tanpa mencemari lingkungan atau membahayakan kesehatan layaknya bahan kimia sintetis.
Teruji Aman dan Nyaman di Kulit
Pembuatan AESIS tidak dilakukan sembarangan. Proses pengembangannya memakan waktu sekitar tiga bulan, mulai dari riset, maserasi (penyarian zat aktif) menggunakan pelarut etanol, hingga uji laboratorium di Laboratorium Terpadu UIN Raden Fatah Palembang.
Untuk memastikan losion ini nyaman dan aman dipakai sehari-hari, produk telah melewati serangkaian uji fisik, meliputi:
Uji Organoleptik dan Homogenitas: Losion AESIS terbukti memiliki tekstur semi padat yang tercampur sempurna (homogen), berwarna putih hingga putih semi hijau, dan dilengkapi dengan tambahan aroma green tea yang menyegarkan sehingga nyaman saat digunakan.
Uji Derajat Keasaman (pH): Tingkat pH produk ini berada di rentang angka 6 dan 7. Angka ini sangat ideal dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), memastikan losion aman, tidak membuat kulit kering, licin, maupun iritasi.
Uji Daya Sebar: Losion ini mudah dioleskan dan meresap dengan baik pada permukaan kulit tanpa perlu ditekan kuat.
Dari berbagai formulasi yang dikembangkan, para peneliti menemukan bahwa Formulasi 1 (F1) dengan konsentrasi ekstrak daun sambiloto sebesar 0,4% merupakan racikan fisik yang paling stabil dan terbaik untuk diaplikasikan.
Harapan Ekonomi dan Kesehatan di Masa Depan
Karya inovatif yang diikutsertakan dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025 ini tidak hanya membawa misi kesehatan, tetapi juga visi pemberdayaan ekonomi. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah, biaya produksi AESIS dapat ditekan sedemikian rupa. Nantinya, sebotol losion AESIS ukuran 60 gram ini direncanakan memiliki harga jual yang sangat terjangkau bagi masyarakat, yakni di kisaran Rp12.000.
Melalui inovasi ini, diharapkan angka penularan penyakit DBD dapat ditekan. Di saat yang bersamaan, terbukanya peluang komersialisasi secara luas diyakini mampu menciptakan alternatif produk anti nyamuk yang ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penjualan produk lokal unggulan ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!