Jangan Asal Buang! Sikat Gigi "Eco Smile" Ciptaan Pelajar Sumsel Ini Justru Bisa Ditanam Menjadi Sayuran
PALI, SUMATERA SELATAN – Tingginya angka limbah plastik di Indonesia mendorong tiga pelajar asal SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), untuk menciptakan inovasi ramah lingkungan. Tiga pelajar tersebut, yakni Alya Defani Edisty, Sigita Damayanti, dan Novi Ardiansyah, berhasil mengembangkan "Eco Smile". Produk ini adalah sikat gigi inovatif berbahan dasar kayu lokal yang dirancang untuk mengurangi tumpukan sampah plastik sekaligus melestarikan budaya daerah.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya limbah sikat gigi plastik dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengganti sikat gigi secara berkala. Berdasarkan data dari KLHK tahun 2023, timbulan sampah nasional mencapai 56,63 juta ton dengan plastik sebagai penyumbang utama. Di Kabupaten PALI sendiri, total timbulan sampah pada tahun 2024 mencapai 38.730,15 ton per tahun, di mana sekitar 24.133,89 ton di antaranya tidak terkelola. Sikat gigi plastik, yang rata-rata hanya digunakan selama dua hingga tiga bulan, menjadi salah satu penyumbang sampah yang sangat sulit terurai di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Sebagai solusi yang berkelanjutan, para pelajar tersebut memanfaatkan limbah kayu songkai dari sisa produksi kerajinan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten PALI untuk bahan utama gagang sikat. Kayu songkai dipilih secara khusus karena memiliki karakteristik yang ringan, kuat, tahan lembap, dan tentunya mudah terurai di alam.
Pengingat Alami dan Misi Pelestarian Budaya
Daya tarik dan keunikan utama dari Eco Smile tidak hanya terletak pada material dasar kayunya, melainkan pada inovasi fungsi ganda di bagian gagangnya. Pada bagian ujung gagang sikat gigi yang dibuat sederhana dan ergonomis ini, terdapat sebuah penutup yang menyembunyikan tabung kecil berisi bibit sawi hijau.
Cara kerjanya sangat edukatif: pengguna dapat menanam bibit tersebut di media tanam sesaat setelah membeli produk. Masa tumbuh bibit hingga masa panen yang memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan berfungsi sebagai "pengingat alami" yang menandakan bahwa sikat gigi tersebut sudah saatnya untuk diganti.
Selain memberikan edukasi tentang kelestarian lingkungan dan kebiasaan menanam, Eco Smile juga membawa misi kuat dalam melestarikan budaya lokal. Gagang sikat gigi ini tidak dibiarkan polos, melainkan diperindah dengan ukiran manual motif batik khas PALI, yakni daun balam bertaburan dan wastu.
Proses produksi inovasi ini melibatkan pemberdayaan masyarakat melalui kerja sama erat dengan para pengrajin lokal di Dekranasda PALI. Para pengrajin mengerjakan prosesnya murni secara kerajinan tangan, mulai dari pemotongan kayu, pembentukan gagang, pengeboran tabung bibit, pengukiran motif batik, hingga proses finishing yang menggunakan lapisan pelindung ramah lingkungan.
Karya inovatif yang diikutsertakan dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025 ini membuktikan bahwa permasalahan lingkungan dapat dijawab melalui kreativitas yang menggabungkan manfaat ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya secara bersamaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!