24 August 2026
Logo

Inovasi Daerah

Menghubungkan Inovator, Menguatkan Daerah, Mengakselerasi Masa Depan

Jangan Asal Buang! Sikat Gigi "Eco Smile" Ciptaan Pelajar Sumsel Ini Justru Bisa Ditanam Menjadi Sayuran

Penulis: Bayu AK 02 January 2026 08:00 WIB Dilihat: 9 kali Komentar: 0
Jangan Asal Buang! Sikat Gigi "Eco Smile" Ciptaan Pelajar Sumsel Ini Justru Bisa Ditanam Menjadi Sayuran

PALI, SUMATERA SELATAN – Tingginya angka limbah plastik di Indonesia mendorong tiga pelajar asal SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), untuk menciptakan inovasi ramah lingkungan. Tiga pelajar tersebut, yakni Alya Defani Edisty, Sigita Damayanti, dan Novi Ardiansyah, berhasil mengembangkan "Eco Smile". Produk ini adalah sikat gigi inovatif berbahan dasar kayu lokal yang dirancang untuk mengurangi tumpukan sampah plastik sekaligus melestarikan budaya daerah.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya limbah sikat gigi plastik dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengganti sikat gigi secara berkala. Berdasarkan data dari KLHK tahun 2023, timbulan sampah nasional mencapai 56,63 juta ton dengan plastik sebagai penyumbang utama. Di Kabupaten PALI sendiri, total timbulan sampah pada tahun 2024 mencapai 38.730,15 ton per tahun, di mana sekitar 24.133,89 ton di antaranya tidak terkelola. Sikat gigi plastik, yang rata-rata hanya digunakan selama dua hingga tiga bulan, menjadi salah satu penyumbang sampah yang sangat sulit terurai di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Sebagai solusi yang berkelanjutan, para pelajar tersebut memanfaatkan limbah kayu songkai dari sisa produksi kerajinan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten PALI untuk bahan utama gagang sikat. Kayu songkai dipilih secara khusus karena memiliki karakteristik yang ringan, kuat, tahan lembap, dan tentunya mudah terurai di alam.

Pengingat Alami dan Misi Pelestarian Budaya

Daya tarik dan keunikan utama dari Eco Smile tidak hanya terletak pada material dasar kayunya, melainkan pada inovasi fungsi ganda di bagian gagangnya. Pada bagian ujung gagang sikat gigi yang dibuat sederhana dan ergonomis ini, terdapat sebuah penutup yang menyembunyikan tabung kecil berisi bibit sawi hijau.

Cara kerjanya sangat edukatif: pengguna dapat menanam bibit tersebut di media tanam sesaat setelah membeli produk. Masa tumbuh bibit hingga masa panen yang memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan berfungsi sebagai "pengingat alami" yang menandakan bahwa sikat gigi tersebut sudah saatnya untuk diganti.

Selain memberikan edukasi tentang kelestarian lingkungan dan kebiasaan menanam, Eco Smile juga membawa misi kuat dalam melestarikan budaya lokal. Gagang sikat gigi ini tidak dibiarkan polos, melainkan diperindah dengan ukiran manual motif batik khas PALI, yakni daun balam bertaburan dan wastu.

Proses produksi inovasi ini melibatkan pemberdayaan masyarakat melalui kerja sama erat dengan para pengrajin lokal di Dekranasda PALI. Para pengrajin mengerjakan prosesnya murni secara kerajinan tangan, mulai dari pemotongan kayu, pembentukan gagang, pengeboran tabung bibit, pengukiran motif batik, hingga proses finishing yang menggunakan lapisan pelindung ramah lingkungan.

Karya inovatif yang diikutsertakan dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025 ini membuktikan bahwa permasalahan lingkungan dapat dijawab melalui kreativitas yang menggabungkan manfaat ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya secara bersamaan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Kirim Komentar

Galeri Video

Geser untuk melihat lainnya
NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

PIA 2025 atau Pali Innovation Award Tahun 2025 adalah kegiatan apresiasi dan penganugerahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pali kepada inovator daerah yang telah melalui kompetisi panjang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025 mulai dari Kick Off, Kurasi Proposal, Pemaparan dan Fact Finding. Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya selama 4 tahun sejak tahun 2022, dimana pada saat itu hanya 38 propsal inovasi yang ikut dengan 4 kategori, tahun 2023 peserta naik menjadi 78 proposal, tahun 2024 menjadi 126 proposal dan tahun 2025 ada 175 proposal yang masuk. selama tiga tahun terakhir ada enam kategori yang dilombakan diantaranya Inovasi Perangkat Daerah, Pendidikan, Kesehatan, Pelajar/Mahasiswa, Desa/Kelurahan dan Pertanian/Pangan. Tahun ini seperti tahun sebelumnya Balitbangda Pali selalu berusaha menghadirkan Juri Terbaik yang memiliki pengalaman dan kualifikasi Nasional diantaranya : 1) Dr. Ing. Wiwiek Joeliani, MT, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, 2) Nailuredha Suherman, SAP Analis Kebijakan Kemenpan RB yang berpengalaman dalam pelaksanaan KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemenpan RB, 3) Prof. Dr. Megawati Simanjuntak, SP., M.Si Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Guru Besar dalam bidang consumer behavior 4) Prof. Filli Pratama, Phd Direktur Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Universitas Sriwijaya, Guru Besar Bidang Food Technology 5) Atang Sulaeman, S.Pt, M.Si Perekayasa Ahli Madya PUSAT RISET TEKNOLOGI INDUSTRI PROSES DAN MANUFAKTUR BRIN 6) Hanif S. Affandi, S.Pt., MSi Ketua Tim Penumbuhan dan Pengembangan Inovasi Daerah Kab. Pali Tahun ini Pemda Pali juga memberikan apresiasi kepada Individa dan lembaga yang telah berdedikasi serta berkontribusi nyata bagi tumbuh kembang inovasi daerah pada 10 bidang sesuai dengan perannya yang luar biasa. Pemerintah Daerah Kab. Pali berkomitmen Besar pada Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah melalui kolaborasi dan sinerji pentahelix sebagai upaya menghadirkan evidence based policy atau kebijakan berbasis bukti yang menjadi landasan mendorong daya saing daerah untuk Pali yang lebih maju menyongsong Indonesia Emas 2025

26 Jun 2026