Lestarikan Permainan Tradisional, Inovasi "LEKBATUNG" Sukses Dongkrak Nilai Matematika Siswa SD di PALI hingga 100%
PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR — Tiga tenaga pendidik dari SD IT Al-Furqon, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), berhasil menciptakan inovasi pembelajaran berbasis permainan tradisional. Inovasi yang diberi nama "LEKBATUNG" atau Engklek Baca Hitung ini diajukan dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025.
Karya kolaboratif dari Riska Arianti, S.Pd., Ririn Suryani, S.Pd., dan Miraniyah, S.Ak. ini terbukti ampuh dalam meningkatkan hasil belajar matematika pada peserta didik kelas 1 sekolah dasar.
Solusi Belajar untuk Anak Aktif
Berangkat dari karakteristik siswa kelas rendah yang masih sangat aktif dan gemar bergerak, metode pembelajaran konvensional dinilai kurang efektif untuk menarik perhatian mereka. Oleh karena itu, ketiga inovator ini menerapkan strategi Game Based Learning yang memadukan permainan tradisional dengan materi pengenalan angka dan huruf.
Dalam pelaksanaannya, cara kerja media inovasi ini sangat interaktif dan menyenangkan:
Peserta didik dibariskan terlebih dahulu sebelum memulai permainan.
Setiap peserta didik kemudian maju satu per satu untuk bermain engklek.
Sembari melompat, peserta didik diwajibkan menyebutkan angka dan huruf yang tertera pada kolom tempat kaki mereka berpijak hingga permainan selesai.
Konsep ini membuat siswa tetap bisa menyalurkan energi mereka untuk bergerak secara aktif sambil menyerap materi pelajaran tanpa merasa terbebani.
Ramah Lingkungan dan Ekonomis
Selain inovatif dari segi pedagogik, LEKBATUNG juga sangat ekonomis dan mengusung semangat peduli lingkungan. Media pembelajaran ini dirancang memanfaatkan barang bekas sehingga meminimalkan biaya produksi.
Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya meliputi:
Banner bekas yang didapatkan secara cuma-cuma atau tanpa biaya (Rp0).
Empat buah spidol seharga Rp20.000.
Tiga buah cat seharga Rp51.000.
Tiga buah kuas cat seharga Rp15.000.
Secara keseluruhan, modal yang dikeluarkan oleh tim guru untuk memproduksi media pembelajaran yang kreatif ini hanyalah sebesar Rp86.000.
Peningkatan Hasil Belajar yang Signifikan
Efektivitas LEKBATUNG terbukti secara nyata melalui uji coba di kelas 1 yang terdiri dari 21 siswa (13 laki-laki dan 8 perempuan) di SD IT Al-Furqon, Desa Raja Barat. Sebelum inovasi ini diterapkan, tingkat ketuntasan siswa pada mata pelajaran matematika masih tergolong sangat rendah. Namun, setelah melalui dua siklus perbaikan pembelajaran menggunakan metode ini, hasilnya melonjak secara dramatis.
Berikut adalah rekapitulasi perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penerapan inovasi LEKBATUNG:
| Tahapan Pembelajaran | Nilai Rata-rata | Persentase Ketuntasan |
|---|---|---|
| Pra Siklus | 52,47 | 19,04% |
| Siklus I | 76,67 | 52,38% |
| Siklus II | 91,14 | 100% |
Pada tahap Pra Siklus, hanya 4 dari total 21 siswa yang berhasil melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun yang luar biasa, pada tahap Siklus II, seluruh siswa atau 100% peserta didik berhasil mencapai ketuntasan belajar dengan nilai yang memuaskan.
Evaluasi dan Keberlanjutan
Meskipun menuai kesuksesan, inovasi ini tetap melalui proses evaluasi untuk penyempurnaan. Tim inovator menemukan bahwa media yang terbuat dari banner sering kali bergeser saat diinjak oleh peserta didik yang sedang melompat. Sebagai solusi agar lebih efektif, mereka merekomendasikan agar desain LEKBATUNG di masa mendatang diaplikasikan secara langsung dengan cara dilukis pada lantai agar lebih tahan lama dan aman.
Ke depannya, inovasi media pembelajaran ini akan diintegrasikan sebagai bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harian maupun mingguan di sekolah. Selain itu, para inovator juga berencana untuk memberikan pelatihan lanjutan kepada rekan-rekan guru lain melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), agar praktik baik dan metode sederhana namun berdampak besar ini dapat direplikasi secara lebih luas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!