22 August 2026
Logo

Inovasi Daerah

Menghubungkan Inovator, Menguatkan Daerah, Mengakselerasi Masa Depan

MANGKA, Inovasi PALI Sulap Kulit Semangka Menjadi Manisan Bernilai Ekonomi

Penulis: Rika PS 16 January 2026 22:25 WIB Dilihat: 3 kali Komentar: 0
MANGKA, Inovasi PALI Sulap Kulit Semangka Menjadi Manisan Bernilai Ekonomi

MANGKA, Inovasi PALI Sulap Kulit Semangka Menjadi Manisan Bernilai Ekonomi

PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR — Inovasi sederhana berbasis pemanfaatan pangan kembali dikembangkan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Melalui inovasi MANGKA (Manisan Kulit Semangka), bagian buah semangka yang selama ini kerap dibuang sebagai limbah diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Inovasi yang digagas Patra Gersom Sitompul ini merupakan inovasi masyarakat dalam bentuk non-digital dan telah memasuki tahap implementasi. MANGKA mengusung konsep pemanfaatan kulit semangka, khususnya bagian albedo atau daging berwarna putih pada kulit buah, sebagai bahan utama pembuatan manisan.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana di lingkungan masyarakat, yakni kulit semangka yang umumnya hanya menjadi sisa konsumsi dan berakhir sebagai limbah pangan. Melalui proses pengolahan, limbah tersebut diubah menjadi makanan olahan yang dapat dikonsumsi kembali serta berpotensi dikembangkan sebagai produk usaha.

Dokumen inovasi menyebutkan bahwa kulit semangka memiliki sejumlah komponen nutrisi, antara lain air, karbohidrat, lemak, serat, serta senyawa antioksidan. Bagian albedo yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi fokus utama inovasi MANGKA.

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Keunggulan MANGKA terletak pada pendekatannya yang menggabungkan aspek pangan, lingkungan, dan ekonomi. Kulit semangka yang sebelumnya dianggap sebagai sisa makanan diolah melalui teknik penggulaan menjadi manisan dengan karakter rasa dan tekstur yang khas.

Selain mengurangi potensi limbah pangan, produk ini dinilai memiliki peluang pasar yang menarik karena menggunakan bahan baku yang mudah diperoleh dan proses produksinya relatif sederhana. Manisan kulit semangka juga disebut dapat disimpan dalam jangka waktu berbulan-bulan sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk usaha masyarakat.

Keunikan lainnya adalah warna kulit semangka yang beragam, mulai dari hijau tua hingga hijau muda bergaris putih. Karakter tersebut dapat menjadi salah satu daya tarik visual produk sekaligus memberikan ruang untuk pengembangan varian dan kemasan.

Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Potensi Lokal

MANGKA tidak hanya diarahkan sebagai inovasi pengolahan pangan. Dalam dokumen inovasinya, pengembangan produk juga dikaitkan dengan peluang ekonomi serta keberlanjutan lingkungan.

Tujuan inovasi antara lain menganalisis kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif, mengembangkan potensi produk, serta melihat peluang ekonomi dan dampak lingkungan dari pemanfaatan kulit semangka. Manfaat yang diharapkan mencakup pengurangan limbah, penyediaan alternatif pangan olahan, pengembangan produk, dan peningkatan nilai tambah bahan lokal.

Dengan pendekatan tersebut, MANGKA menunjukkan bahwa inovasi daerah tidak selalu harus berbasis teknologi digital. Inovasi juga dapat lahir dari kemampuan masyarakat melihat persoalan sehari-hari sebagai peluang untuk menciptakan produk baru yang bermanfaat.

Telah Diimplementasikan dan Direplikasi

MANGKA tercatat melakukan uji coba pada 13 Agustus 2023 dan mulai diimplementasikan pada 16 Agustus 2024. Dalam indikator inovasi daerah, MANGKA juga telah memiliki pedoman teknis produksi, pelaksana inovasi, dukungan sosialisasi dan diseminasi, serta terintegrasi melalui PALI Innovation Hub sebagai bagian dari layanan produk inovasi daerah hasil kolaborasi lintas sektor.

Menariknya, dokumen tersebut juga mencatat bahwa inovasi MANGKA telah direplikasi melalui kerja sama dengan sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir, dan Kabupaten Muara Enim. Hal ini menunjukkan adanya potensi MANGKA untuk dikembangkan lebih luas sesuai karakteristik dan potensi bahan pangan lokal masing-masing daerah.

Dari sisi produksi, dokumen inovasi mencatat jumlah produk yang dihasilkan atau diperjualbelikan telah mencapai lebih dari 200 barang.

Inovasi Kecil, Dampak Berkelanjutan

MANGKA menjadi contoh bagaimana pendekatan ekonomi sirkular dapat diterapkan dari tingkat masyarakat. Bahan yang sebelumnya dipandang sebagai limbah diubah menjadi produk konsumsi yang memiliki nilai tambah.

Ke depan, pengembangan MANGKA dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produk, standardisasi proses produksi, penguatan kemasan dan pemasaran, serta pengembangan jejaring usaha masyarakat. Dengan demikian, inovasi ini tidak berhenti pada pemanfaatan kulit semangka, tetapi dapat berkembang menjadi model usaha pangan lokal yang mendukung pengurangan limbah sekaligus memperkuat ekonomi kreatif masyarakat.

Inovasi MANGKA pada akhirnya membawa pesan sederhana: apa yang selama ini dianggap sebagai limbah belum tentu tidak bernilai. Dengan kreativitas, pengetahuan, dan inovasi, sisa pangan pun dapat diubah menjadi peluang ekonomi.

MANGKA — dari kulit semangka, lahir inovasi; dari inovasi, tumbuh nilai ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Kirim Komentar

Galeri Video

Geser untuk melihat lainnya
NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

PIA 2025 atau Pali Innovation Award Tahun 2025 adalah kegiatan apresiasi dan penganugerahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pali kepada inovator daerah yang telah melalui kompetisi panjang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025 mulai dari Kick Off, Kurasi Proposal, Pemaparan dan Fact Finding. Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya selama 4 tahun sejak tahun 2022, dimana pada saat itu hanya 38 propsal inovasi yang ikut dengan 4 kategori, tahun 2023 peserta naik menjadi 78 proposal, tahun 2024 menjadi 126 proposal dan tahun 2025 ada 175 proposal yang masuk. selama tiga tahun terakhir ada enam kategori yang dilombakan diantaranya Inovasi Perangkat Daerah, Pendidikan, Kesehatan, Pelajar/Mahasiswa, Desa/Kelurahan dan Pertanian/Pangan. Tahun ini seperti tahun sebelumnya Balitbangda Pali selalu berusaha menghadirkan Juri Terbaik yang memiliki pengalaman dan kualifikasi Nasional diantaranya : 1) Dr. Ing. Wiwiek Joeliani, MT, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, 2) Nailuredha Suherman, SAP Analis Kebijakan Kemenpan RB yang berpengalaman dalam pelaksanaan KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemenpan RB, 3) Prof. Dr. Megawati Simanjuntak, SP., M.Si Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Guru Besar dalam bidang consumer behavior 4) Prof. Filli Pratama, Phd Direktur Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Universitas Sriwijaya, Guru Besar Bidang Food Technology 5) Atang Sulaeman, S.Pt, M.Si Perekayasa Ahli Madya PUSAT RISET TEKNOLOGI INDUSTRI PROSES DAN MANUFAKTUR BRIN 6) Hanif S. Affandi, S.Pt., MSi Ketua Tim Penumbuhan dan Pengembangan Inovasi Daerah Kab. Pali Tahun ini Pemda Pali juga memberikan apresiasi kepada Individa dan lembaga yang telah berdedikasi serta berkontribusi nyata bagi tumbuh kembang inovasi daerah pada 10 bidang sesuai dengan perannya yang luar biasa. Pemerintah Daerah Kab. Pali berkomitmen Besar pada Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah melalui kolaborasi dan sinerji pentahelix sebagai upaya menghadirkan evidence based policy atau kebijakan berbasis bukti yang menjadi landasan mendorong daya saing daerah untuk Pali yang lebih maju menyongsong Indonesia Emas 2025

26 Jun 2026