Sulap Kubis Ungu Jadi Pendeteksi pH, Inovasi Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Curi Perhatian
PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR – Dua pelajar dari SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), berhasil menciptakan inovasi sains yang sangat aplikatif, murah, dan ramah lingkungan. M. Rochmeidi Holil dan Laily Cahya Aufa, di bawah bimbingan guru Hesti Ekromia S.Pd dan Meisa Adila S.Pd, menggagas pembuatan alat tes derajat keasaman (pH) menggunakan bahan alami berupa kubis ungu. Inovasi edukatif ini turut diusulkan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025.
Mengapa Harus Kubis Ungu?
Dalam aktivitas laboratorium maupun kehidupan sehari-hari, pengujian tingkat keasaman atau kebasaan suatu zat umumnya mengandalkan indikator sintetis buatan pabrik, seperti kertas lakmus, metil merah, atau fenolftalein. Sayangnya, bahan-bahan kimia tersebut tidak selalu ramah lingkungan dan aksesnya kerap terbatas bagi masyarakat umum, terutama untuk keperluan praktik eksperimen sederhana di sekolah maupun di rumah. Sebagai solusinya, kedua pelajar ini memanfaatkan kubis ungu (Brassica oleracea var. capitata f. rubra). Kubis ungu rupanya menyimpan potensi besar karena mengandung senyawa pigmen alami yang bernama antosianin. Pigmen antosianin inilah yang berperan sangat baik sebagai indikator asam-basa alami. Molekul indikator pada antosianin dapat bereaksi dan berubah bentuk ketika dicampur dengan zat lain, sehingga menghasilkan warna yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pH larutan tersebut.
Indikator Warna Asam, Netral, dan Basa
Cara kerja indikator alami ini sangat menarik karena menghasilkan spektrum warna yang mencolok. Saat ekstrak kubis ungu diteteskan ke dalam sebuah larutan, Anda bisa melihat sifat larutan tersebut berdasarkan perubahan warnanya: Asam (pH kurang dari 7): Larutan akan berubah warna menjadi merah atau merah muda (pink). Netral (pH sekitar 7): Larutan akan mempertahankan warna asli ekstrak, yakni ungu atau biru. Basa (pH lebih dari 7): Larutan akan berubah warna menjadi hijau, biru, hingga kuning kehijauan.
Cara Pembuatan yang Sangat Praktis
Untuk membuat alat tes pH alami ini, tidak diperlukan peralatan laboratorium yang rumit. Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa ditiru: Pertama, siapkan 5 hingga 10 lembar daun kubis ungu segar, kemudian potong menjadi ukuran kecil-kecil. Kedua, masukkan potongan daun ke dalam blender bersama sedikit air panas lalu haluskan. Sebagai alternatif, daun juga bisa direbus selama 10 hingga 15 menit sampai airnya berubah menjadi ungu tua. Ketiga, saring hasil blenderan atau air rebusan tersebut menggunakan kain saring atau saringan biasa untuk memisahkan ampasnya. Terakhir, air saringan yang berwarna ungu pekat tersebut sudah siap digunakan sebagai cairan indikator pH.
Kelebihan dan Kekurangan Inovasi
Seperti halnya teknologi pada umumnya, alat tes pH dari kubis ungu ini memiliki keunggulan dan keterbatasannya tersendiri.
Kelebihan:Sangat alami, ramah lingkungan, dan sama sekali tidak menggunakan bahan kimia berbahaya bagi kesehatan. Bahan bakunya sangat mudah didapat dan proses pembuatannya memakan biaya yang sangat murah. Mampu mendeteksi dan menunjukkan rentang pH yang tergolong luas, yakni mulai dari pH 2 hingga pH 11. Menghasilkan perubahan warna yang sangat bervariasi dan mencolok, sehingga sangat ideal dan menyenangkan untuk media edukasi sains interaktif di sekolah.
Kekurangan:Hasil pengujian bersifat kualitatif (sebatas perkiraan visual), sehingga tidak dapat memberikan angka pH pasti dan seakurat alat ukur digital (pH meter). Transisi perubahan warna pada nilai pH yang letaknya berdekatan terkadang terlihat mirip, sehingga dapat memicu sedikit kebingungan saat diamati secara kasat mata. Cairan ekstrak ini sifatnya tidak stabil; warnanya dapat berubah atau rusak seiring berjalannya waktu, terutama jika dibiarkan terpapar cahaya matahari langsung atau suhu yang tinggi. Kurang cocok digunakan untuk menguji cairan yang sudah memiliki warna dasar pekat, karena perubahan warna indikatornya akan tertutupi oleh warna asli cairan tersebut. Inovasi dari siswa-siswi SMAN 2 Unggulan Talang Ubi ini membuktikan bahwa mempelajari sains tidak harus selalu mahal dan rumit. Lewat sayuran sederhana yang ada di dapur, generasi muda mampu menciptakan terobosan yang mendukung pelestarian lingkungan sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!