22 August 2026
Logo

Inovasi Daerah

Menghubungkan Inovator, Menguatkan Daerah, Mengakselerasi Masa Depan

Sulap Kubis Ungu Jadi Pendeteksi pH, Inovasi Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Curi Perhatian

Penulis: Ika PS 09 February 2026 09:12 WIB Dilihat: 17 kali Komentar: 0
Sulap Kubis Ungu Jadi Pendeteksi pH, Inovasi Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Curi Perhatian

PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR – Dua pelajar dari SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), berhasil menciptakan inovasi sains yang sangat aplikatif, murah, dan ramah lingkungan. M. Rochmeidi Holil dan Laily Cahya Aufa, di bawah bimbingan guru Hesti Ekromia S.Pd dan Meisa Adila S.Pd, menggagas pembuatan alat tes derajat keasaman (pH) menggunakan bahan alami berupa kubis ungu. Inovasi edukatif ini turut diusulkan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025.  

Mengapa Harus Kubis Ungu?

Dalam aktivitas laboratorium maupun kehidupan sehari-hari, pengujian tingkat keasaman atau kebasaan suatu zat umumnya mengandalkan indikator sintetis buatan pabrik, seperti kertas lakmus, metil merah, atau fenolftalein. Sayangnya, bahan-bahan kimia tersebut tidak selalu ramah lingkungan dan aksesnya kerap terbatas bagi masyarakat umum, terutama untuk keperluan praktik eksperimen sederhana di sekolah maupun di rumah.  Sebagai solusinya, kedua pelajar ini memanfaatkan kubis ungu (Brassica oleracea var. capitata f. rubra). Kubis ungu rupanya menyimpan potensi besar karena mengandung senyawa pigmen alami yang bernama antosianin. Pigmen antosianin inilah yang berperan sangat baik sebagai indikator asam-basa alami. Molekul indikator pada antosianin dapat bereaksi dan berubah bentuk ketika dicampur dengan zat lain, sehingga menghasilkan warna yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pH larutan tersebut.  

Indikator Warna Asam, Netral, dan Basa

Cara kerja indikator alami ini sangat menarik karena menghasilkan spektrum warna yang mencolok. Saat ekstrak kubis ungu diteteskan ke dalam sebuah larutan, Anda bisa melihat sifat larutan tersebut berdasarkan perubahan warnanya:  Asam (pH kurang dari 7): Larutan akan berubah warna menjadi merah atau merah muda (pink).  Netral (pH sekitar 7): Larutan akan mempertahankan warna asli ekstrak, yakni ungu atau biru.  Basa (pH lebih dari 7): Larutan akan berubah warna menjadi hijau, biru, hingga kuning kehijauan.  

Cara Pembuatan yang Sangat Praktis

Untuk membuat alat tes pH alami ini, tidak diperlukan peralatan laboratorium yang rumit. Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa ditiru:  Pertama, siapkan 5 hingga 10 lembar daun kubis ungu segar, kemudian potong menjadi ukuran kecil-kecil.  Kedua, masukkan potongan daun ke dalam blender bersama sedikit air panas lalu haluskan. Sebagai alternatif, daun juga bisa direbus selama 10 hingga 15 menit sampai airnya berubah menjadi ungu tua.  Ketiga, saring hasil blenderan atau air rebusan tersebut menggunakan kain saring atau saringan biasa untuk memisahkan ampasnya.  Terakhir, air saringan yang berwarna ungu pekat tersebut sudah siap digunakan sebagai cairan indikator pH.  

Kelebihan dan Kekurangan Inovasi

Seperti halnya teknologi pada umumnya, alat tes pH dari kubis ungu ini memiliki keunggulan dan keterbatasannya tersendiri.

Kelebihan:Sangat alami, ramah lingkungan, dan sama sekali tidak menggunakan bahan kimia berbahaya bagi kesehatan.  Bahan bakunya sangat mudah didapat dan proses pembuatannya memakan biaya yang sangat murah.  Mampu mendeteksi dan menunjukkan rentang pH yang tergolong luas, yakni mulai dari pH 2 hingga pH 11.  Menghasilkan perubahan warna yang sangat bervariasi dan mencolok, sehingga sangat ideal dan menyenangkan untuk media edukasi sains interaktif di sekolah.  

Kekurangan:Hasil pengujian bersifat kualitatif (sebatas perkiraan visual), sehingga tidak dapat memberikan angka pH pasti dan seakurat alat ukur digital (pH meter).  Transisi perubahan warna pada nilai pH yang letaknya berdekatan terkadang terlihat mirip, sehingga dapat memicu sedikit kebingungan saat diamati secara kasat mata.  Cairan ekstrak ini sifatnya tidak stabil; warnanya dapat berubah atau rusak seiring berjalannya waktu, terutama jika dibiarkan terpapar cahaya matahari langsung atau suhu yang tinggi.  Kurang cocok digunakan untuk menguji cairan yang sudah memiliki warna dasar pekat, karena perubahan warna indikatornya akan tertutupi oleh warna asli cairan tersebut.  Inovasi dari siswa-siswi SMAN 2 Unggulan Talang Ubi ini membuktikan bahwa mempelajari sains tidak harus selalu mahal dan rumit. Lewat sayuran sederhana yang ada di dapur, generasi muda mampu menciptakan terobosan yang mendukung pelestarian lingkungan sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Kirim Komentar

Galeri Video

Geser untuk melihat lainnya
NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

PIA 2025 atau Pali Innovation Award Tahun 2025 adalah kegiatan apresiasi dan penganugerahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pali kepada inovator daerah yang telah melalui kompetisi panjang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025 mulai dari Kick Off, Kurasi Proposal, Pemaparan dan Fact Finding. Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya selama 4 tahun sejak tahun 2022, dimana pada saat itu hanya 38 propsal inovasi yang ikut dengan 4 kategori, tahun 2023 peserta naik menjadi 78 proposal, tahun 2024 menjadi 126 proposal dan tahun 2025 ada 175 proposal yang masuk. selama tiga tahun terakhir ada enam kategori yang dilombakan diantaranya Inovasi Perangkat Daerah, Pendidikan, Kesehatan, Pelajar/Mahasiswa, Desa/Kelurahan dan Pertanian/Pangan. Tahun ini seperti tahun sebelumnya Balitbangda Pali selalu berusaha menghadirkan Juri Terbaik yang memiliki pengalaman dan kualifikasi Nasional diantaranya : 1) Dr. Ing. Wiwiek Joeliani, MT, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, 2) Nailuredha Suherman, SAP Analis Kebijakan Kemenpan RB yang berpengalaman dalam pelaksanaan KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemenpan RB, 3) Prof. Dr. Megawati Simanjuntak, SP., M.Si Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Guru Besar dalam bidang consumer behavior 4) Prof. Filli Pratama, Phd Direktur Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Universitas Sriwijaya, Guru Besar Bidang Food Technology 5) Atang Sulaeman, S.Pt, M.Si Perekayasa Ahli Madya PUSAT RISET TEKNOLOGI INDUSTRI PROSES DAN MANUFAKTUR BRIN 6) Hanif S. Affandi, S.Pt., MSi Ketua Tim Penumbuhan dan Pengembangan Inovasi Daerah Kab. Pali Tahun ini Pemda Pali juga memberikan apresiasi kepada Individa dan lembaga yang telah berdedikasi serta berkontribusi nyata bagi tumbuh kembang inovasi daerah pada 10 bidang sesuai dengan perannya yang luar biasa. Pemerintah Daerah Kab. Pali berkomitmen Besar pada Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah melalui kolaborasi dan sinerji pentahelix sebagai upaya menghadirkan evidence based policy atau kebijakan berbasis bukti yang menjadi landasan mendorong daya saing daerah untuk Pali yang lebih maju menyongsong Indonesia Emas 2025

26 Jun 2026