Tinggalkan Cara Lama, SINTA Hadirkan Perpustakaan Digital Interaktif di SMAN 2 Unggulan Talang Ubi
Kemajuan teknologi digital telah merombak lanskap pendidikan secara menyeluruh. Sayangnya, di banyak sekolah, sistem pengelolaan perpustakaan masih berjalan di tempat, terjebak pada metode pencatatan manual di atas kertas. Kondisi ini tidak hanya membuat proses administrasi peminjaman menjadi sangat lambat dan rentan terhadap kesalahan (human error), tetapi juga gagal menarik minat generasi muda yang kini sangat bergantung pada teknologi untuk membaca dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan.
Menyadari keterbatasan tersebut, dua siswi inovatif dari SMAN 2 Unggulan Talang Ubi, Carrin Sakila Firana dan Dini Putri Utami, menggagas sebuah solusi cemerlang. Melalui program pendidikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI 2025, mereka menghadirkan SINTA (Sistem Interaktif Nusantara Taman Aksara). Ini bukanlah sekadar katalog buku digital, melainkan sebuah ekosistem perpustakaan paperless yang modern, efisien, dan inklusif.
Sistem Otomatis dengan Sentuhan Ruang Berkarya
Pengembangan aplikasi SINTA diawali dengan riset dan survei langsung kepada para siswa dan guru. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas siswa merasa kurang nyaman menggunakan sistem perpustakaan konvensional dan sangat mendambakan kehadiran platform digital yang lebih praktis. Berbekal data tersebut, Carrin dan Dini merancang user interface (UI/UX) SINTA menggunakan Canva, dan membangun aplikasinya menggunakan platform pengembangan berbasis blok visual (tanpa perlu menulis coding rumit), yakni Kodular.
Aplikasi SINTA bekerja layaknya perpustakaan fisik, namun jauh lebih pintar. Pengelola perpustakaan dapat mengunggah (input) seluruh data buku ke dalam database online, sementara siswa dan guru bisa dengan bebas mencari, meminjam, dan melacak histori buku yang dibaca secara real-time melalui ponsel cerdas (smartphone) atau laptop masing-masing.
Keistimewaan SINTA yang membuatnya berbeda dari aplikasi perpustakaan lain adalah keberadaan fitur User-Generated Content. Siswa tidak hanya dituntut untuk membaca koleksi perpustakaan, tetapi juga diberikan ruang interaktif untuk mempublikasikan karya-karya mereka, seperti puisi, artikel, ulasan buku (review), hingga karya visual. Bahkan, para siswa dapat saling berinteraksi melalui kolom komentar yang tersedia di dalam aplikasi.
Cepat, Murah, dan Berdampak Luas
Dikembangkan dengan efisiensi tinggi, penciptaan inovasi digital yang revolusioner ini memakan biaya yang sangat hemat, yakni hanya sekitar Rp60.000 untuk kebutuhan kuota internet, kertas karton mockup, dan lem untuk presentasi visual.
Secara keseluruhan, inovasi SINTA berhasil membuktikan bahwa teknologi dapat menjembatani kesenjangan literasi yang ada. Ia sukses mengubah citra perpustakaan dari sebuah ruangan yang sunyi dan membosankan, menjadi wadah interaktif yang memicu minat baca sekaligus menumbuhkan jiwa-jiwa penulis muda. SINTA adalah wujud nyata transformasi pendidikan yang adaptif dan inklusif bagi pelajar PALI.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!