Atasi Masalah Sampah Lingkungan, Dua Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Sulap Biji Cempedak Menjadi Camilan
Penumpukan sampah organik kerap menjadi masalah kebersihan yang mengganggu kenyamanan, salah satunya adalah limbah biji cempedak yang sering dijumpai di daerah perkampungan. Selain membuat lingkungan kurang bersih, biji cempedak yang membusuk juga bisa membahayakan karena teksturnya menjadi sangat licin dan rawan membuat warga terpeleset. Melihat kondisi tersebut, dua siswi SMAN 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yaitu Frindia dan Angelica Panyola, menciptakan sebuah solusi pangan kreatif berupa camilan yang diberi nama "KERDAK" (Keripik Cempedak).
Melalui proposal yang diajukan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2024, kedua inovator muda ini mengangkat potensi biji cempedak (Artocarpus Champeden)—atau yang biasa disebut beton—menjadi produk jajanan yang bernilai guna tinggi. Langkah ini tidak hanya efektif mengurangi sampah organik di lingkungan sekitar, tetapi juga menghasilkan alternatif makanan baru yang padat nutrisi. Berdasarkan kajian ilmiah, biji cempedak merupakan sumber karbohidrat dan energi yang potensial, serta kaya akan mineral penting seperti fosfor (200 mg), kalsium (33 mg), zat besi (1,0 mg), hingga kandungan vitamin B1 dan vitamin C.
Metode Pengolahan Tradisional yang Praktis
Inovasi non-digital yang juga dikembangkan sebagai bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ini sengaja dirancang menggunakan metode pengolahan sederhana tanpa alat modern agar mudah ditiru oleh masyarakat luas. Proses pembuatannya relatif praktis dan memanfaatkan bahan baku yang murah serta mudah didapatkan karena cempedak merupakan tumbuhan tahunan yang tumbuh subur di berbagai daerah.
Tahapan pembuatan KERDAK dilakukan melalui proses berikut:
Pembersihan dan Perebusan: Buah cempedak dikupas dan bijinya dipisahkan. Biji cempedak (beton) tersebut dicuci bersih dalam ember, kemudian direbus menggunakan panci hingga teksturnya melunak.
Pengupasan dan Pengirisan: Biji yang telah matang ditiriskan dan didiamkan beberapa menit hingga dingin. Setelah dingin, kulit luar dari biji dikelupas, lalu biji buah dipotong atau diiris tipis-tipis.
Pemberian Bumbu dan Pengeringan: Hasil irisan dimasukkan ke dalam baskom, diberi garam dan bumbu racikan, lalu ditambahkan air secukupnya dan diaduk hingga merata. Irisan biji berbumbu ini kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering dan mengeras.
Penggorengan: Irisan yang sudah kering digoreng ke dalam wajan berisi minyak panas, diaduk hingga matang merata, lalu diangkat dan ditiriskan. Keripik yang telah matang siap disajikan langsung atau dikemas menggunakan plastik standing pouch.
Ekonomi Kreatif dan Aman Konsumsi
Produk KERDAK ini diproduksi tanpa menggunakan bahan pengawet sehingga sangat aman untuk dikonsumsi harian oleh masyarakat. Namun, para inovator memberikan catatan bahwa cempedak memiliki sifat alami yang panas sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi berlebihan oleh ibu hamil guna menghindari efek mual atau gangguan asam lambung.
Di bawah bimbingan guru pengajar Jussi Agustine S.Pd, Suryawati S.Pd, dan Indri Nedia Nopriani S.Pd, aspek ekonomi dari produk ini juga telah diperhitungkan secara matang. Dengan modal produksi yang minim untuk membeli minyak goreng, garam, penyedap rasa, dan wadah kemasan, produk KERDAK ini siap dipasarkan dengan harga jual Rp10.000 per bungkus. Inovasi ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat luas untuk mengubah limbah yang semula terbuang sia-sia menjadi ide usaha baru yang bernilai ekonomis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!