12 October 2026
Logo

Inovasi Daerah

Menghubungkan Inovator, Menguatkan Daerah, Mengakselerasi Masa Depan

Atasi Masalah Sampah Lingkungan, Dua Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Sulap Biji Cempedak Menjadi Camilan

Penulis: Ika PS 09 August 2024 07:32 WIB Dilihat: 8 kali Komentar: 0
Atasi Masalah Sampah Lingkungan, Dua Pelajar SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Sulap Biji Cempedak Menjadi Camilan

Penumpukan sampah organik kerap menjadi masalah kebersihan yang mengganggu kenyamanan, salah satunya adalah limbah biji cempedak yang sering dijumpai di daerah perkampungan. Selain membuat lingkungan kurang bersih, biji cempedak yang membusuk juga bisa membahayakan karena teksturnya menjadi sangat licin dan rawan membuat warga terpeleset. Melihat kondisi tersebut, dua siswi SMAN 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yaitu Frindia dan Angelica Panyola, menciptakan sebuah solusi pangan kreatif berupa camilan yang diberi nama "KERDAK" (Keripik Cempedak).

Melalui proposal yang diajukan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2024, kedua inovator muda ini mengangkat potensi biji cempedak (Artocarpus Champeden)—atau yang biasa disebut beton—menjadi produk jajanan yang bernilai guna tinggi. Langkah ini tidak hanya efektif mengurangi sampah organik di lingkungan sekitar, tetapi juga menghasilkan alternatif makanan baru yang padat nutrisi. Berdasarkan kajian ilmiah, biji cempedak merupakan sumber karbohidrat dan energi yang potensial, serta kaya akan mineral penting seperti fosfor (200 mg), kalsium (33 mg), zat besi (1,0 mg), hingga kandungan vitamin B1 dan vitamin C.

Metode Pengolahan Tradisional yang Praktis

Inovasi non-digital yang juga dikembangkan sebagai bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ini sengaja dirancang menggunakan metode pengolahan sederhana tanpa alat modern agar mudah ditiru oleh masyarakat luas. Proses pembuatannya relatif praktis dan memanfaatkan bahan baku yang murah serta mudah didapatkan karena cempedak merupakan tumbuhan tahunan yang tumbuh subur di berbagai daerah.

Tahapan pembuatan KERDAK dilakukan melalui proses berikut:

Pembersihan dan Perebusan: Buah cempedak dikupas dan bijinya dipisahkan. Biji cempedak (beton) tersebut dicuci bersih dalam ember, kemudian direbus menggunakan panci hingga teksturnya melunak.

Pengupasan dan Pengirisan: Biji yang telah matang ditiriskan dan didiamkan beberapa menit hingga dingin. Setelah dingin, kulit luar dari biji dikelupas, lalu biji buah dipotong atau diiris tipis-tipis.

Pemberian Bumbu dan Pengeringan: Hasil irisan dimasukkan ke dalam baskom, diberi garam dan bumbu racikan, lalu ditambahkan air secukupnya dan diaduk hingga merata. Irisan biji berbumbu ini kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering dan mengeras.

Penggorengan: Irisan yang sudah kering digoreng ke dalam wajan berisi minyak panas, diaduk hingga matang merata, lalu diangkat dan ditiriskan. Keripik yang telah matang siap disajikan langsung atau dikemas menggunakan plastik standing pouch.

Ekonomi Kreatif dan Aman Konsumsi

Produk KERDAK ini diproduksi tanpa menggunakan bahan pengawet sehingga sangat aman untuk dikonsumsi harian oleh masyarakat. Namun, para inovator memberikan catatan bahwa cempedak memiliki sifat alami yang panas sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi berlebihan oleh ibu hamil guna menghindari efek mual atau gangguan asam lambung.

Di bawah bimbingan guru pengajar Jussi Agustine S.Pd, Suryawati S.Pd, dan Indri Nedia Nopriani S.Pd, aspek ekonomi dari produk ini juga telah diperhitungkan secara matang. Dengan modal produksi yang minim untuk membeli minyak goreng, garam, penyedap rasa, dan wadah kemasan, produk KERDAK ini siap dipasarkan dengan harga jual Rp10.000 per bungkus. Inovasi ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat luas untuk mengubah limbah yang semula terbuang sia-sia menjadi ide usaha baru yang bernilai ekonomis.

 

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!

Kirim Komentar

Galeri Video

Geser untuk melihat lainnya
NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

NOMINASI INOVASI DAERAH KATEGORI PERTANIAN DAN PANGAN PIA 2025

PIA 2025 atau Pali Innovation Award Tahun 2025 adalah kegiatan apresiasi dan penganugerahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kab. Pali kepada inovator daerah yang telah melalui kompetisi panjang Lomba Inovasi Daerah Tahun 2025 mulai dari Kick Off, Kurasi Proposal, Pemaparan dan Fact Finding. Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya selama 4 tahun sejak tahun 2022, dimana pada saat itu hanya 38 propsal inovasi yang ikut dengan 4 kategori, tahun 2023 peserta naik menjadi 78 proposal, tahun 2024 menjadi 126 proposal dan tahun 2025 ada 175 proposal yang masuk. selama tiga tahun terakhir ada enam kategori yang dilombakan diantaranya Inovasi Perangkat Daerah, Pendidikan, Kesehatan, Pelajar/Mahasiswa, Desa/Kelurahan dan Pertanian/Pangan. Tahun ini seperti tahun sebelumnya Balitbangda Pali selalu berusaha menghadirkan Juri Terbaik yang memiliki pengalaman dan kualifikasi Nasional diantaranya : 1) Dr. Ing. Wiwiek Joeliani, MT, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, 2) Nailuredha Suherman, SAP Analis Kebijakan Kemenpan RB yang berpengalaman dalam pelaksanaan KIPP (Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik) Kemenpan RB, 3) Prof. Dr. Megawati Simanjuntak, SP., M.Si Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Guru Besar dalam bidang consumer behavior 4) Prof. Filli Pratama, Phd Direktur Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Universitas Sriwijaya, Guru Besar Bidang Food Technology 5) Atang Sulaeman, S.Pt, M.Si Perekayasa Ahli Madya PUSAT RISET TEKNOLOGI INDUSTRI PROSES DAN MANUFAKTUR BRIN 6) Hanif S. Affandi, S.Pt., MSi Ketua Tim Penumbuhan dan Pengembangan Inovasi Daerah Kab. Pali Tahun ini Pemda Pali juga memberikan apresiasi kepada Individa dan lembaga yang telah berdedikasi serta berkontribusi nyata bagi tumbuh kembang inovasi daerah pada 10 bidang sesuai dengan perannya yang luar biasa. Pemerintah Daerah Kab. Pali berkomitmen Besar pada Peningkatan Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah melalui kolaborasi dan sinerji pentahelix sebagai upaya menghadirkan evidence based policy atau kebijakan berbasis bukti yang menjadi landasan mendorong daya saing daerah untuk Pali yang lebih maju menyongsong Indonesia Emas 2025

26 Jun 2026