Dari Predikat 'Kurang' Menjadi Gemilang: Inovasi GELAP Sukses Dongkrak Literasi Siswa SMPN 3 Penukal Utara
PENUKAL UTARA — Tantangan rendahnya tingkat literasi masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Namun, sebuah langkah inspiratif berhasil diwujudkan oleh sebuah sekolah di wilayah pedesaan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Seorang pendidik bernama Vendra dari SMPN 3 Penukal Utara berhasil menggagas sebuah inovasi bernama Gerakan Literasi Pagi atau yang disingkat "GELAP". Inovasi ini diikutsertakan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025 pada Kategori Bidang Pendidikan.
Tantangan Literasi di Pelosok Desa
Sebelum inovasi GELAP diterapkan, SMPN 3 Penukal Utara dihadapkan pada kenyataan pahit terkait rendahnya kemampuan literasi peserta didiknya. Hal ini terbukti dari Rapor Pendidikan tahun 2024 yang menunjukkan capaian literasi sekolah tersebut berada pada level "kurang".
Kondisi tersebut dipicu oleh beberapa kendala utama di lapangan:
Sekolah tidak memiliki fasilitas perpustakaan sehingga kesulitan menyediakan bahan bacaan berkualitas.
Akses internet yang kurang memadai membuat peserta didik kesulitan mencari sumber bacaan yang bervariasi.
Materi bacaan yang ada belum sepenuhnya sesuai dengan minat dan budaya lokal, sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk membaca.
Strategi GELAP dan Pendekatan Sosiokognitif
Untuk menjawab tantangan tersebut, program GELAP dirancang berdasarkan analisis kebutuhan peserta didik. Program ini menerapkan pendekatan sosiokognitif yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan pengembangan pemikiran kritis.
Pelaksanaan program GELAP mencakup beberapa aktivitas harian, yaitu:
Sesi Membaca Pagi: Peserta didik membaca buku yang disesuaikan dengan level literasi dan gaya belajar mereka.
Diskusi Kecil: Peserta didik berdiskusi tentang apa yang telah dibaca untuk melatih kemampuan berbicara dan berpikir kritis.
Refleksi: Peserta didik merenungkan isi bacaan untuk memahami nilai atau pesannya.
Mencatat: Peserta didik menuliskan intisari bacaan pada buku laporan dan meminta masukan dari pendidik.
Pemilihan bahan bacaan disesuaikan menggunakan metode Semua Anak Cerdas (SAC) dari UNRAM, yang mengelompokkan siswa ke dalam lima level membaca: pemula, huruf, kata, paragraf, dan cerita.
Lahirkan Buku "Belajar Indonesia" Ber-ISBN
Luar biasanya, inovasi GELAP ini didanai secara mandiri oleh Vendra sebagai bentuk komitmen pribadinya terhadap kemajuan literasi sekolah. Dari inovasi ini, Vendra Ardiansyah dan Yuliana sukses menyusun sebuah buku bacaan bertajuk Belajar Indonesia.
Buku tersebut telah resmi memiliki ISBN (978-634-04-1045-7) dan diterbitkan pada bulan Juli 2025 oleh CV. Era Digital Nusantara.
Materi dalam buku ini difokuskan pada level cerita dan gaya belajar normal, yang mencakup 87,5% dari total peserta didik.
Buku ini mengangkat topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, keberagaman budaya, dan kekayaan kuliner daerah untuk menarik minat baca peserta didik.
Lonjakan Capaian Literasi dan Penghargaan Nasional
Kerja keras melalui inovasi GELAP terbukti tidak sia-sia dan membuahkan hasil yang sangat membanggakan.
Berdasarkan Rapor Pendidikan tahun 2025, sebanyak 80% peserta didik SMPN 3 Penukal Utara telah berhasil mencapai kompetensi minimum dalam literasi membaca.
Capaian ini melonjak drastis sebesar 61,82% dibandingkan tahun 2024, di mana sebelumnya hanya 18,18% peserta didik yang mampu mencapai kompetensi minimum tersebut.
Berkat lonjakan kualitas pembelajaran yang signifikan ini, SMPN 3 Penukal Utara dianugerahi dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Kinerja Kemajuan Terbaik. Penghargaan bergengsi ini hanya diberikan kepada 15% satuan pendidikan dengan kinerja terbaik di seluruh Indonesia yang berhasil meningkatkan indikator kualitas pembelajarannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!