Dobrak Rasa Malu dan Stigma: "KOLAK MANIS" Sukses Tingkatkan Partisipasi Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara di PALI
Kanker serviks dan kanker payudara masih menjadi dua ancaman terbesar bagi kesehatan perempuan di Indonesia. Kunci utama untuk mencegah tingkat keparahan penyakit ini adalah deteksi dini. Namun, realita di lapangan sering kali jauh dari harapan. Di wilayah kerja Puskesmas Air Itam, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), program pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) sempat mencatatkan rapor merah. Pada tahun 2022, angka kunjungan untuk program vital ini sangat memprihatinkan, yakni hanya diikuti oleh 46 peserta saja.
Rendahnya partisipasi ini bukan semata-mata karena masyarakat tidak peduli, melainkan karena tingginya dinding stigma dan rasa malu. Banyak wanita usia subur (WUS) yang merasa enggan atau takut untuk memeriksakan area intimnya. Selain itu, minimnya informasi yang mereka terima serta kendala izin dari suami kerap menjadi penghalang utama yang membuat masyarakat menutup diri dari layanan fasilitas kesehatan.
Melihat fenomena ini, Novi Kusmiran, Am.Keb, seorang tenaga kesehatan di Puskesmas Air Itam, menginisiasi sebuah terobosan humanis yang dinamakan KOLAK MANIS (Konsultasi LAyanan pemeriksaan infeksi visual asaM Asetat dan sadaNIS). Diusung dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025, inovasi ini merombak total sistem pelayanan yang tadinya pasif menunggu pasien, menjadi layanan proaktif yang menjemput bola hingga ke akar komunitas.
Pendekatan Holistik: Edukasi, Konsultasi Digital, dan Ruang Ramah Perempuan
KOLAK MANIS dirancang bukan sekadar sebagai program pemeriksaan medis, tetapi sebagai ruang aman bagi para perempuan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mendobrak ketidaktahuan melalui sosialisasi dan edukasi interaktif berbasis media visual. Tidak hanya menyasar para wanita, edukasi ini juga secara khusus merangkul pihak keluarga dan para suami, memberikan pemahaman bahwa deteksi dini adalah bentuk perlindungan, bukan aib.
Untuk mengatasi rasa malu, KOLAK MANIS menyediakan layanan konsultasi online melalui barcode WhatsApp. Melalui jalur komunikasi privat ini, pasien bebas bertanya seputar risiko, gejala awal, hingga langkah pencegahan langsung kepada tenaga medis tanpa harus merasa canggung. Konsultasi ini sekaligus berfungsi menyiapkan mental dan fisik pasien sebelum mereka benar-benar datang untuk diperiksa.
Saat pelaksanaan pemeriksaan, inovasi ini menjamin suasana yang santai, terjangkau, dan sangat ramah perempuan. Bahkan, untuk meningkatkan antusiasme, program ini juga membagikan suvenir kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi atas keberanian mereka melakukan deteksi dini. Apabila dari hasil pemeriksaan (yang bisa diketahui langsung saat itu juga) ditemukan hasil positif atau curiga kanker, pasien tidak akan dibiarkan sendirian; tim akan langsung mendampingi dan mengarahkan rujukan ke rumah sakit terdekat.
Meroketnya Angka Partisipasi dan Kesadaran Masyarakat
Dampak dari pendekatan edukatif dan humanis yang didanai melalui Dinas Kesehatan ini sangat luar biasa. Tembok stigma dan rasa takut perlahan runtuh, digantikan oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi. Hal ini dibuktikan dengan lonjakan angka partisipasi yang sangat tajam. Dari yang tadinya hanya 46 peserta pada tahun 2022, angka tersebut naik menjadi 141 peserta di tahun 2023, dan melesat jauh hingga mencapai 555 peserta pada tahun 2024.
Melalui KOLAK MANIS, Novi Kusmiran dan jajaran Puskesmas Air Itam membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya diukur dari kecanggihan alat medisnya, tetapi dari seberapa besar empati dan pendekatan humanis yang diberikan. Dengan menghilangkan sekat rasa malu dan membangun ruang aman bagi perempuan, inovasi ini telah mengambil langkah besar dalam menyelamatkan nyawa generasi ibu dan perempuan di Kabupaten PALI dari ancaman kanker yang mematikan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!