Inovasi "PONDASI" dari PALI: Guru Honorer Ciptakan Pohon Interaktif yang Ubah Matematika Jadi Menyenangkan
PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR — Matematika sering kali menjadi mata pelajaran yang kurang diminati dan dianggap menakutkan bagi siswa kelas rendah di tingkat Sekolah Dasar (SD). Pendekatan pembelajaran yang masih bersifat abstrak, monoton, dan berpusat pada metode ceramah membuat siswa kesulitan memahami operasi hitung dasar. Menjawab tantangan ini, dua guru honorer dari SD IT Al-Furqon Raja Barat, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menciptakan sebuah inovasi brilian bernama "PONDASI" atau Pohon Media Numerasi.
Karya inovatif yang digagas oleh Aranda Dewantara dan Dicky Juliansyah ini turut meramaikan ajang Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025.
Belajar Konkret dengan Pohon Tiga Dimensi
Inovasi PONDASI hadir sebagai media pembelajaran visual dan kontekstual yang dirancang khusus untuk mempermudah siswa kelas 1 SD memahami konsep penjumlahan dan pengurangan secara konkret. Media edukatif ini dirancang menyerupai bentuk pohon tiga dimensi. Menariknya, inovasi ini mengedepankan kepedulian lingkungan karena dibuat menggunakan bahan-bahan bekas yang mudah didapat, seperti kardus, karton tebal, triplek, tali, hingga tutup botol.
Cara kerja Pohon Media Numerasi ini sangat interaktif karena memadukan unsur visual, logika, dan motorik anak:
Pada bagian batang pohon, inovator menyematkan sebuah "tangga angka berwarna" yang berfungsi sebagai alat bantu visual bagi siswa.
Saat pembelajaran, guru akan memberikan soal operasi hitung dasar, seperti 3 + 2 atau 3 - 1.
Siswa kemudian diminta untuk menggerakkan pion atau penanda dari angka awal yang tertera pada soal.
Penanda tersebut digerakkan melangkah naik ke atas untuk menyelesaikan soal penjumlahan.
Sebaliknya, penanda digerakkan melangkah turun ke bawah untuk menyelesaikan soal pengurangan.
Melalui pergerakan fisik ini, siswa dapat melihat langsung perubahan angka secara nyata. Mereka diajak untuk memahami secara logis bahwa penjumlahan berarti pergerakan maju, sedangkan pengurangan adalah pergerakan mundur.
Lahir dari Semangat Kolaborasi dan Keberlanjutan
Gagasan pembuatan PONDASI bermula dari sebuah Workshop Penguatan Kemampuan Numerasi dan Literasi yang diselenggarakan di SD IT Al-Furqon Raja Barat. Acara tersebut menghadirkan Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten PALI, Iin Syirah, S.Pd., M.Pd. sebagai salah satu narasumber. Dari lokakarya tersebut, para guru ditantang untuk menciptakan media yang mampu memicu semangat belajar anak-anak yang bermalas-malasan.
Penerapan inovasi ini dinilai memiliki berbagai keunggulan yang signifikan dibandingkan metode pembelajaran konvensional (metode lama):
Waktu Pembelajaran Efisien: Siswa lebih cepat memahami materi karena mereka memahaminya langsung melalui praktik, tidak sekadar mengulang hafalan.
Aksesibilitas Tanpa Batas: Pembuatan yang murah dari bahan daur ulang membuat media ini tidak bergantung pada alat bantu pabrikan yang mahal, sehingga mudah direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di berbagai daerah.
Dampak Emosional Positif: Siswa yang sebelumnya takut atau bosan dengan matematika kini menjadi lebih percaya diri, berani mencoba, dan antusias dalam berhitung.
Dengan diterapkannya PONDASI, suasana belajar di kelas rendah menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan partisipatif. Ke depannya, inovasi ini diharapkan dapat diintegrasikan secara berkesinambungan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harian dan disebarluaskan melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) agar manfaat literasinya dapat dirasakan secara nasional.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!