Kurangi Limbah dan Cegah Degradasi Lahan, SMAN 2 Unggulan Talang Ubi Luncurkan Inovasi "PUKULIN"
Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus terbukti membawa dampak buruk bagi lingkungan, salah satunya adalah memicu degradasi lahan. Kondisi ini menyebabkan hilangnya fungsi tanah sebagai sumber air dan hara, serta menurunkan tingkat kesuburan tanah akibat hilangnya bahan organik di daerah perakaran. Berangkat dari permasalahan tersebut, dua pelajar kelas X dari SMAN 2 Unggulan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yakni Rahman Rizky Rafa dan Ahmad Zaidan Dinata, menciptakan sebuah terobosan ramah lingkungan bernama "PUKULIN" (Pupuk Kulit Nanas).
Melalui proposal yang diajukan dalam ajang Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2024, kedua inovator muda ini memanfaatkan limbah kulit nanas (Ananas comosus) yang kerap menumpuk tak terpakai di pasar-pasar tradisional untuk diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Berdasarkan kajian mereka, kulit nanas mengandung unsur hara makro yang sangat esensial bagi pertumbuhan tanaman seperti nitrogen, fosfor, dan kalium (N, P, K). Selain itu, limbah ini juga kaya akan unsur hara mikro penting seperti besi (Fe), boron, mangan, tembaga, seng, dan klor.
Metode Fermentasi dan Modifikasi Formula Khas
Inovasi PUKULIN dikembangkan menggunakan metode fermentasi anaerobik (tanpa oksigen) dengan modifikasi bahan yang membedakannya dari pupuk organik cair berbahan nanas pada umumnya. Keunggulan formula ini terletak pada kombinasi penggunaan EM4 dan "Mol Tape" buatan sendiri yang berfungsi mengaktifkan mikroorganisme agar proses fermentasi berjalan lebih cepat dan menghasilkan khasiat yang lebih kaya.
Proses pembuatan PUKULIN dilakukan melalui tahapan berikut:
Pembuatan Mol Tape: Menggabungkan tape dan gula merah yang dipotong kecil ke dalam wadah, dicampur dengan air beras, lalu dikocok hingga merata. Campuran ini difermentasikan secara aerobik (membutuhkan oksigen) selama 7 hingga 10 hari hingga siap digunakan.
Pengolahan Kulit Nanas: Kulit nanas yang telah dicuci bersih kemudian diblender bersama air beras, dengan takaran air beras sebesar setengah dari volume kulit nanas.
Pencampuran & Fermentasi: Hasil blenderan dimasukkan ke dalam wadah, lalu ditambahkan masing-masing 50 ml EM4 dan 50 ml Mol Tape. Campuran tersebut kemudian disimpan dalam wadah tertutup untuk menjalani proses fermentasi. Setiap pagi, tutup wadah dibuka sejenak untuk mengeluarkan gas nitrogen yang terbentuk selama proses berlangsung.
Uji Coba, Aturan Pakai, dan Strategi Keberlanjutan
Inovasi non-digital ini telah melewati masa uji coba sejak Februari hingga Juni 2024 sebelum akhirnya mulai diimplementasikan secara luas pada Juni 2024. Karena kandungan dalam pupuk organik cair dari kulit nanas ini tergolong keras, para inovator memberikan aturan pakai yang ketat: cairan PUKULIN harus dicampur dengan air bersih menggunakan perbandingan 1:10 sebelum disiramkan ke tanaman, dengan frekuensi pemberian cukup 1–2 kali seminggu guna mencegah tanaman menjadi layu.
Untuk menjaga keberlanjutan produk di masa depan, Rahman dan Zaidan sudah menyusun strategi pengembangan lanjutan. Rencana inovasi berikutnya adalah menambahkan ekstrak daun ubi jalar ke dalam formula PUKULIN, yang diyakini dapat semakin mempercepat proses pertumbuhan pada tumbuhan. Selain menyuburkan tanaman, ampas kulit nanas hasil fermentasi ini juga dapat didaur ulang kembali sebagai media tanam organik yang ramah lingkungan.
Melalui proyek yang juga menjadi bagian dari Laporan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) ini, diharapkan kesadaran masyarakat—khususnya para petani sebagai konsumen akhir—dapat meningkat untuk beralih ke pupuk organik. Langkah ini tidak hanya membuka peluang industri lokal berbasis pemanfaatan limbah, tetapi juga menjadi bukti nyata kepedulian generasi muda dalam menjaga kelestarian ekosistem tanah di Kabupaten PALI.
Ringkasan Eksekutif Inovasi
Inisiator & Lembaga: Rahman Rizky Rafa dan Ahmad Zaidan Dinata (Siswa Kelas X SMAN 2 Unggulan Talang Ubi).
Bentuk Inovasi: Inovasi Daerah Lainnya (Kategori Pelajar/Mahasiswa) berupa Pupuk Organik Cair (POC) non-digital.
Kandungan Utama: Unsur hara makro (Nitrogen, Fosfor, Kalium, Kalsium, Magnesium) dan unsur hara mikro (Besi, Boron, Mangan, Tembaga, Seng, Klor).
Metode Aplikasi: Pengenceran dengan air perbandingan 1:10, diaplikasikan 1–2 kali seminggu pada tanaman.
Garis Waktu Proyek: Uji coba dilakukan pada Februari – Juni 2024, dengan implementasi penuh mulai Juni 2024.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!