Mendobrak Stigma dalam Diam: "CETO NIAN PALI" Hadirkan Layanan HIV/IMS yang Aman, Rahasia, dan Paripurna
Berbicara tentang Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) sering kali bukan sekadar berbicara soal tantangan medis, melainkan juga pertarungan melawan stigma sosial yang begitu mengakar. Di berbagai lapisan masyarakat—mulai dari keluarga, teman sebaya, hingga lingkungan kerja—Orang Dengan HIV (ODHIV) kerap kali menerima label negatif, diskriminasi, hingga pengucilan sosial. Ketakutan akan stigma dan perundungan (bullying) inilah yang sering menjadi tembok tebal bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk sekadar memeriksakan diri atau mengambil obat ke fasilitas kesehatan.
Kondisi ini sempat tergambar di wilayah kerja Puskesmas Air Itam, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Pada tahun 2020, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk program HIV/IMS masih sangat rendah, di mana skrining ibu hamil hanya menyentuh 65%, pasien TB 45%, sementara skrining pada populasi kunci seperti Lelaki Suka Lelaki (LSL), Waria, dan Infeksi Menular Seksual (IMS) sepenuhnya berada di angka nol persen (0%).
Melihat peliknya nasib para penyintas yang terpaksa bersembunyi di balik ketakutan, Ali Hasan, S.Kep, seorang tenaga kesehatan dedikatif dari Puskesmas Air Itam, merumuskan sebuah inovasi komprehensif bernama CETO NIAN PALI. Diusung dalam Lomba Inovasi Daerah Kabupaten PALI Tahun 2025, nama ini merupakan akronim cerdas dari Cek, Edukasi dan Konseling, Therapy & Obati Dini HIV dan IMS Secara Nyaman di PALI.
Layanan "PINDANG": Pindai Pesanan, Kami Datang Ali Hasan dan tim menyadari bahwa mewajibkan pasien datang ke puskesmas sama dengan membiarkan mereka berhadapan langsung dengan ketakutan akan penghakiman sosial. Oleh karena itu, CETO NIAN PALI merombak total alur pelayanan menjadi jauh lebih privat, aman, dan memeluk kemajuan digital. Inovasi ini memperkenalkan konsep "PINDANG", singkatan dari PINDai pesanan, kami datANG.
Hanya dengan memindai barcode menggunakan telepon pintar, masyarakat dapat terhubung langsung ke layanan hotline WhatsApp, Instagram, maupun Facebook resmi CETO NIAN PALI 24 jam sehari untuk berkonsultasi secara daring. Menariknya, pasien dibebaskan untuk mengatur jadwal (booking) dan memilih sendiri lokasi pemeriksaan atau fasilitas jejaring yang mereka anggap paling tertutup dan aman. Setelah titik disepakati, petugas kesehatan akan langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan mobile test (jemput bola) secara gratis. Hasil skrining pun dapat langsung diketahui secara privat sesaat setelah pemeriksaan selesai.
Pendekatan Holistik Tanpa Diskriminasi Inovasi CETO NIAN PALI tidak berhenti pada proses deteksi di lapangan saja. Program ini merangkul penyintas ODHIV melalui pendekatan holistic care yang terintegrasi dan berkelanjutan. Bagi pasien yang terkonfirmasi, mereka tidak perlu lagi waswas kehabisan obat atau malu mengantre. Tim Ceto Nian memberikan layanan pendampingan minum obat antiretroviral (ARV) setiap bulannya, serta melakukan pengecekan viral load secara rutin setiap enam bulan sekali tanpa mengharuskan pasien menginjakkan kaki di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Pasien cukup menghubungi petugas via WhatsApp.
Lebih dari itu, layanan ini juga menyediakan bimbingan konseling dan dukungan sebaya (peer support) untuk mengembalikan kepercayaan diri pasien agar dapat kembali hidup produktif, bermasyarakat, dan terhindar dari kemungkinan terburuk seperti pemasungan. Untuk memperluas jangkauan perlindungan dari hulu, program ini juga proaktif terjun melakukan skrining Triple Eliminasi (HIV, Sifilis, dan Hepatitis B) pada kelas ibu hamil di desa-desa sekitar.
Melonjaknya Angka Keberhasilan dan Runtuhnya Stigma Hadirnya CETO NIAN PALI sukses menciptakan gelombang perubahan yang sangat masif di masyarakat. Kemudahan akses dan jaminan kerahasiaan mutlak membuat warga tak lagi ragu untuk memeriksakan status kesehatannya. Bukti nyatanya terlihat dari angka capaian skrining SPM yang pada tahun 2022 hanya sebanyak 134 orang (58%), melonjak drastis menjadi 231 orang (80%) di tahun 2023, dan terus meroket menembus 342 orang (90%) pada tahun 2024.
Keberhasilan menjangkau populasi kunci yang selama ini ibarat "fenomena gunung es" juga sangat menakjubkan. Pada pemantauan tahun 2024, capaian deteksi IMS tembus hingga 2600%, kelompok LSL mencapai 500%, dan Waria mencapai 100% dari target awal. Layanan kolaboratif yang menggandeng lintas sektor ini pun sukses mendulang Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang luar biasa di angka 87,3 (Kategori A).
Melalui CETO NIAN PALI, Ali Hasan dan jajaran Puskesmas Air Itam membuktikan bahwa memanusiakan manusia adalah pondasi utama dalam dunia kesehatan. Dengan meruntuhkan tembok stigma melalui layanan jemput bola yang aman dan privat, para penyintas kini dapat bangkit, mendapatkan hak pengobatan yang layak, dan kembali merajut masa depan tanpa rasa takut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan pendapat!